Minggu, 26 Februari 2017

SHALAT SUNAH YANG PALING UTAMA?


Pondasi wujud ketaatan manusia kepada Allah SWT adalah dengan melaksanakan sholat. Yang paling penting adalah sholat wajib lima waktu. Namun untuk menyempurnakan sholat yang lima waktu itu, bisa ditambah dengan sholat sunah. Sholat sunah ini antara lain sholat sunah Dhuha, Tahajjud, Hajat, Istikoroh, Tarawih, Witir, dan sholat sunah lainnya.

Telah datang seorang Arab gunung, lalu ia berkata, "Ya Rasulullah, shalat apa yang difardhukan oleh Allah atas saya?" Jawab Rasulullah SAW, "Shalat lima waktu, kecuali kalau engkau mau shalat sunnah". (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan banyak macam sholat sunah, membuat kadang ada pertanyaan, ‘Mana yang lebih utama diantara sholat-sholat sunah itu?’. Jawabannya adalah semuanya memiliki derajat yang sama disisi Allah SWT. Tergantung kita melaksanakannya dengan niat tulus, sungguh-sungguh atau tidak. Asalkan kita melaksanakan semua ibadah karena niat untuk mendapat ridho dar Allah, dilaksanakan dengan tulus dan sungguh-sungguh, istiqomah, maka pahalanya akan menjadi penolong kita. Karena hanya Allah yang Mahatau atas derajat pahala yang dikerjakan umatnya. Sholat lima waktu dijaga. Disempurnakan dengan sholat sunah.

Sholat Tahajjud akan mengantarkan kita pada kemuliaan. Dhuha mengantarkan pada kemudahan dan kesehatan, memanjangkan usia. Sholat Hajat menyampaikan kita pada terpenuhinya hajat kita. Istikoroh akan memilihkan urusan kita yang terbaik.

Abu Hurairah Radhiyallahuanhu berkata, Rasulullah SAW bersabda :
"Sesungguhnya amal manusia yang pertamakali akan dihisa kelak pada hari kiamat adalah shalatnya." Rasulullah bersaba lagi, "Allah berfirman kepada Malaikat-Nya, sedangkan ia mengetahui, 'Lihatlah shalat hamba-Ku, sudahkan ia melaksanakan dengan sempurna ataukan terdapat kekurangan?' Bila ibadahnya telah sempurna maka tulis untuknya pahala yang sempurna pula. Namun bila ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman, 'Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah?' Bila ia memiliki shalat sunnah, maka Allah berfirman, 'Sempurnakan untuk hamba-Ku dari kekuranganya itu dengan shalat sunnahnya'. Demikianlah semua ibadah akan menjalani proses yang serupa."

Jika kita sudah melaksanakan ibadah baik yang wajib dan dilengkapi dengan yang sunah dengan benar, semua karena mengharap keridhoan Allah, karena iman dan taqwa, maka bila diuji dengan nikmat kita akan bersyukur. Bila diuji dengan bencana akan bersabar. Bila diuji dengan limpahan rizki akan giat berinfak dan bersedekah. Kita akan senantiasa menjaga perilaku dan ucapan.

Dengan kita melaksanakan perintah Allah SWT, memperbaiki siri dan miningkatkan kualitas keimanan, maka ditengah-tengah kondisi kehidupan yang tidak stabil ini, kita akan selalu merasa tenang. Perasaan tenang ini muncul karena kita merasa selalu memiliki Allah SWT, bersama-Nya, dan dalam perlindungan Dia. wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”

Soebahman, Adiba A. 2015. 7 Keajaiban Shalat dan Shalawat. Yogyakarta: KAUNA PUSTAKA

Penulis        : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 6, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Minggu, 19 Februari 2017

TEKANAN EMOSI


Emosi adalah perasan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi adalah reaksi terhadap seseorang atau kejadian. Emosi dapat ditunjukan ketika merasa senang mngenai sesuatu, marah kepada seseorang, atapun takut terhadap sesuatu. Manusia akan mengalami tekanan emosi dalam sehari sebanyak lima kali, yaitu saat bangun tidur, pagi hari. Saat siang hari, ketika sedang sibuk bekerja. Saat sore hari, ketika merasa lelah usai bekerja. Dua tekanan saat menjelang tidur.

Saat bangun tidur pada pagi hari, kita cenderung malas untuk melalukan aktivitas. Ketika kita sibuk bekerja atau melakukan aktivitas pada siang hari, emosi kita menjadi tidak stabil. Sore hari setelah bekerja, kita merasa lelah, letih, dan butuh istirahat. Pada saat ini keadaan emosi manusia juga tidak stabil. Ketika seseorang berada pada tekan emosi yang memuncak, jangan sekali-kali mengajaknya bercanda atau menyakitinya, karena akan menyebabkan salah paham dan mudah emosi.

Sholat...ya sholat fardhu lima waktu merupakan penawar dari tekanan emosi. Sholat Subuh yang dilaksanakan pada pagi hari berfungsi untuk melandasi jiwa agar tidak bermalas-malasan. Ketika siang hari, ditengah kesibukan beraktivitas, kita berhenti sejenak untuk melaksanakan sholat Dzuhur agar gejolak emosi kita tetap terkontrol. Begitu juga dengan sholat Ashar, Maghrib, dan ‘Isya, dapat dijadikan sebagai sarana pengendali emosi agar kita terjaga dari pengaruh-pengaruh negatif.

Ketika kita sholat, berarti kita mengingat Allah SWt dan dekat dengan-Nya sehingga pikiran kita menjadi tenang dan tentram.

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram.” (QS Ar Rad : 28)

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan, bertasbislah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapam kepada cahaya (yang terang). Dan, Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS Al Ahzab : 41-43)

Jika kita mengingat Allah pagi, siang, sore, malam, dan melaksanakan solat maka hati kita akan terhindar dari gejolak energy emosi yang negatif. Karena dengan mengingat Allah dan sholat, hati kita menjadi tenang, tentram, dan pikiran menjadi jernih. Dengan kata lain, mengingat Allah dan sholat menahan gejolak emosi negative dan membangkitkan emosi positif. wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”

Makhdlori, Muhammad. 2015. Mengambil Tabungan dari Langit. Yogyakarta: Sabil

Penulis        : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 6, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


  



Jumat, 13 Januari 2017

KISAH TENTANG HUKUMAN BAGI PENCURI

Aisyah berkata : “ Sesungguhnya kaum Quraisy merasa berat hati dengan terjadinya pencurian yang dilakukan  oleh salah seorang wanita dari suku Mahkzumiyyah. Kemudian mereka bermusyawarah dan diantara mereka ada yang berkata, ‘Siapa yang akan menyampaikan perkara ini kepada Rasul SAW.?’ ”

“Tiada yang berani menyampaikan perkara ini kecuali kekasih Rasul, Usamah bin Zaid.”kata salah seorang yang hadir dalam musyawarah itu.

Kemudian Usamah menhadap dan menceritakan perkara itu kepada Rasul SAW., maka beliau berkata, “Apakah engkau akan memberi pertolongan kepada seseorang dalam masalah hukum had yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.?”

Kemudian beliau berdiri dan menyampaikan khutbah didepan banyak orang, ”Kehancuran orang-orang sebelum kalian disebabkan jika diantara mereka ada seorang pencuri dari golongan terhormat, mereka membiarkannya. Namun jika yang mencuri orang lemah, maka mereka menghukumnya. Demi Allah, kalau seandainya Fatimah, putri Muhammad mencuri, maka aku sendiri yang akan memotong tangannya.”

Dalam riwayat yang lain, ketika pakaian Safwan bin Umayyah telah dicuri, Rasulullah Saw. memerintahkan supaya tangan pencuri dipotong. Kemudian Safwan berkata, “Aku tidak menginginkan itu, wahai Rasul. Pakaian itu sudah aku relakan untuknya sebagai sedekah.”

Rasul berkata kepadanya, “Seharusnya engkau mengucapkan itu sebelum engkau membawanya kepadaku.”

Imam Malik meriwayatkan bahwa Zubair bin ‘Awwam bertemu dengan seseorang yang berhasil menangkap seorng pencuri. Orang tersebut hendak membawa pencuri itu menghadap sultan. Maka Zubair meminta orang tersebut untuk memaafkan pencuri itu, namun orang tersebut menolak dan berkata, “Aku akan memaafkannya setelah aku membuat laporan kepada sultan.”

“Jika engkau telah membawanya menghadap sultan dan proses hukuman sedang berjalan, maka orang yang memberi ampunan dan orang yang diampuni akan mendapat laknat dari Allah SWT.,” jawab Zubair bin ‘Awwam.

Dari kisah diatas diketahui bahwa mencuri merupakan berbuatan yang tidak baik dan dilarang oleh Allah SWT. Hukum sebenarnya bagi orang yang mencuri ialah dipotong tangannya. Memberikan hukuman juga harus adil. Hukuman untuk golongan terpandang dan golongan rendah haruslah tidak dibedakan. Maka sebagai orang muslim hendaknya kita menjauhi dari hal-hal yang berbau pencurian karena hal itu merupakan perbuatan yang tidaklah baik. Saling mengingatkan dan mencari kegiatan yang positif. 

wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”


Malik, Miftahul A. 2014. 102 Kisah Rasulullah yang Paling Mengharukan Sepanjang Sejarah. Yogyakarta: Semesta Hikmah

Penulis        : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 5, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta



TANGGUNG JAWAB !

“Tiada iman pada orang yang tidak menunaikan amanat dan tidak agama pada orang yang tidak menunaikan janji.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Mempunyai sikap tanggung jawab merupakan keharusan bagi setiap manusia. Tanggung jawab merupakan kesadaran yang ada dalam diri seseorang bahwa tindakannya akan memberikan pengaruh kepada orang lain dan dirinya sendiri. Maka orang yang memiliki sifat tanggung jawab akan melakukan tindakan yang memberikan pengaruh positif dan meninggalkan hal-hal yang dapat merugikan orang lain maupun dirinya sendiri. Orang bertanggung jawab akan berusaha memenuhi kepentingan orang lain terlebih dahulu daripada kepentingan pribadi.

Tanggung jawab memiliki kedudukan yang sangat vital dalam setiap wilayah kehidupan. Rasa tanggung jawab dapat ditujukan terhadap keluarga, anak, orang tua, teman, pekerjaan serta terhadap diri sendiri.
Tanggung jawab bisa dilakukan, misal seorang suami memberikan nafkah kepada keluarganya, menyekolahkan anak, berusaha memberikan kebahagiaan kepada keluarga. Ketika diberi amanah untuk sekolah, sekolah dengan benar dan sungguh-sungguh. Saat diberi amanah teman, melaksanakan amanahnya. Misal teman yang sedang sakit memberikan uangnya agar kita membelikan makanan untuknya, maka gunakan uang itu untuk membelikan makanan, bukan untuk membeli sesuatu untuk kepentingan pribadi. Kemudian ketika diberi amanah oleh atasan untuk menyelesaikan pekerjaan, kita sebagai bawahan harus mengerjakan tugas dengan baik, benar, dan selesai tepat waktu. Dengan memiliki sikap bertanggung jawab, kita akan diterima dan mendapatkan kepercayaan dari banyak orang. Dengan begitu segala urusan kita dapat berjalan dengan mudah.

Tanggung jawab tidak hanya ditujukan bagi sesama manusia, tetapi yang lebih penting lagi adalah tanggung jawab terhadap segala sesuatu yang diamanatkan oleh Allah SWT., menyangkut pemberian anugrah, seperti agama, rizqi, kesehatan, anak, istri, dan segala nikmat yang diberikan oleh-Nya.

Orang yang bertanggung jawab terhadap amanat berarti dia dapat menunaikan segala sesuatu yang diamanatkan kepadanya.

“Sesungguhnya, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil…”(QS. An Nisaa’ : 58)
Amanat menyangkut segala hal seperti menjaga ucapan, menunaikan hak Allah SWT., serta memperlakukan semua manusia secara adil. Bersikap adil dalam menetapkan hukum.

“Setiap kalian adalah pemimpin dan karenanya akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Para amir adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Seorang lelaki adalah pemimpin ditengah keluarganya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Setiap wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya, ia akan diminta pertanggungjawaban tentangnya. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang itu. Dan, setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.” (Muttafaqun ‘Alaih)
wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”

Makhdlori, Muhammad. 2015. Mengambil Tabungan dari Langit. Yogyakarta: Sabil

Penulis        : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 5, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta





Minggu, 25 Desember 2016

AKHLAK KEPADA ORANG TUA


“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduannya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh rasa sayang dan ucapkanlah,’Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’’’ (QS. Al-Isra’:23-24)
Perbuatan yang harus dilakukan seorang anak terhadap orang tua menurut Al-Qur’an antara lain :
ü  Berbakti kepada kedua orang tua.
ü  Mendoakan keduanya.

ü  Taat terhadap segala yang diperintahkan dan meninggalkan segala yang dilarang mereka, sepanjang perintah dan larangan itu tidak bertentangan dengan ajaran agama.
ü  Menghormatinya, merendahkan diri kepadanya, berkata yang halus dan baik supaya mereka tidak tersinggung, tidak membentak dan tidak melebihi suaranya, tidak berjalan didepannya, tidak memanggil dengan nama, tetapi memanggil dengan ‘ayah’, ‘ibu’ serta nama lain yang pantas.
ü  Memberi penghidupan, pakaian, mengobati jika sakit, dan menyelamatkan dari sesuatu yang dapat membahayakan.
ü  Jika menyayangi orang tua, juga akan disayang oleh anak-anaknya.
Jika kedua orang tua telah meninggal, sebagai anak kita diperintahkan untuk berbakti kepada keduanya dengan cara sebagai berikut :
ü  Jika orang tua meninggalkan utang-piutang, segerakan untuk membayarnya.
ü  Jika meninggalkan wasiat, segera penuhi wasiatnya sepanjang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW.
ü  Sambung hubungan baik dengan sanak family dan sahabat dekatnya.
ü  Mendoakan keduanya tentang kebaikan didunia dan di alam kubur.
ü  Menghormati dan memuliakan teman-teman keduanya.
ü  Menghajikan jika mampu. Jika tidak mampu, berikan sedekan atasnama orang tua untuk ketenangan di alam kubur.
Seorang muslim harus mengetahui hak kedua orangtuanya, melakukannya secara sempurna sebagai wujud dari ketaatan terhadap Allah dan terhadap petunjuk-Nya. Sesungguhnya, Allah telah mewajibkan umat manusia untuk bertindak sopan santun kepadanya.
ü  Menaati keduanya dalam segala perintah dan larangannya sepanjang perintah tersebut tidak bertentangan dengan agama.
ü  Berkata lembut dan dan mulia kepada kedua orang tua dengan menyayanginya, tidak berkata ‘ah’ atau ‘cis’.
ü  Berkata sopan dan merendahkan diri terhadap orang tua.
ü  Didahulukan panggilan ibu daripada ayah, karena ibu yang telah mengandung, melahirkan, menyusui. Ayah yang emberikan nafkah dengan cucuran keringat dan air mata. Oleh karenanya kita wajib menyayangi dan memuliakan mereka.
wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”


Sarmadi, Sunedi. 2012. AKHLAK DALAM ISLAM. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Penulis        : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 5, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


AKHLAK KEPADA DIRI SENDIRI

Akhlak terhadap diri sendiri. Ya… kadang kita belajar banyak tentang akhlak terhadap orang lain dan lupa akan akhlak terhadap diri sendiri. Berakhlak terhadap orang lain dan melanggar akhlak pada diri sendiri. Ketika kita bisa berakhlak kepada diri sendiri, pastilah kita bisa berakhlak terhadap orang lain. berikut adalah akhlak terhadap diri sendiri :


1.    Berbuat, bersikap, dan bertindak baik terhadap diri sendiri serta meninggalkan segala sesuatu yang dapat merusak diri sendiri. “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan diri kamu sendiri kedalam kebinasaan dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Baqarah : 195)
2.    Bersikap adil terhadap diri sendiri, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. Al Nahl :90)
3.    Menikah, apabila mampu baik dilihat dari segi materi maupun imateri, “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sehayamu yang lelaki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nur : 32)
4.    Dilarang bunuh diri, “Barangsiapa sengaja menjatuhkan diri dari gunung lalu membunuh dirinya, maka dia din neraka jahanam. Dan barangsiapa meminum racun lalu membunuh dirinya, maka racun ditangannya itu akan diminumnya dineraka jahanam kekal selama-lamanya. Dan barangsiapa membunuh dengan besi, maka besi yang ada di tangannya itu akan dipukulkan dirinya di neraka jahanam kekal selama-lamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
5.    Menjaga Harkat dan Martabat diri, “Dari Abu Al A’war. Said bin Zaid bin Umar bin Nufail r.a., salah seorang dari sepuluh orang yang mati syahid bagi mereka surge, berkata, ‘Saya telah mendengar Rasulullah SAW. bersabda, ‘Barangsiapa yang terbunuh karena mempertahankan hartanya, maka ia mati syahid, barangsiapa yang terbunuh karena ia membela darahnya, maka ia mati syahid. Barangsiapa yang terbunuh karena membela agamanya, maka ia mati syahid. Dan barangsiapa yang terbunuh karena membela keluarganya, maka ia mati syahid.’’”(HR. Abu Dawud)
6.    Berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mengikuti hawa nafsu. Dalam hadist Rasulullah SAW. disebutkan, “Orang cerdik atau cerdas ialah orang yang bisa menguasai dirinya dan beramal untuk kepentingan atau kebahagiaan akhirat setelah ia meninggal, sedangkan orang yang rendah akalnya (bodoh) ialah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan terhadap belas kasian terhadap Allah.” (HR. Turmudzi)
7.    Berusaha semaksimal mungkin agar tidak terjebak oleh godaan dan tipuan setan. Firman Allah SWT., “Iblis menjawab, ‘Karena engkau menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’at).’” (QS. Al A’raf : 16-17)
8.    Berusaha semaksimal mungkin supaya dirinya tidak terjebak oleh kenikmatan-kenikmatan duniawi, “Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (QS Lukman : 33)
9.    Berbusana dengan menutup aurat bagi wanita, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab : 59)
wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”


Sarmadi, Sunedi. 2012. AKHLAK DALAM ISLAM. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Penulis        : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 5, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta



Selasa, 15 November 2016

10 HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH



Dalil yang menunjukkan keutamaan 10 hari pertama bulan dzulhijjah adalah firman Allah Swt., “Dan demi malam yang sepuluh.”(QS. Al-Fajr[89]: 2) Mayoritas para pakar tafsir menyebutkan sepuluh hari yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama bulah Dzulhijjah.

Dalam hadits Ibnu ‘Abbas ra, “Tidak ada satu amal saleh yang lebih dicintai oleh Allah Swt. melebihi amal saleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi Saw. menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah , kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satu pun.” (HR. Bukhari)

Imam Ahmad ra, meriwatkan dari Umar ra bahwa Nabi Saw. bersabda, “Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan didalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir, dan tahmid.”
 
Mengapa 10 hari pertama Dzulhijjah begitu istimewa sehingga dianjurkan berpuasa pada saat-saat itu? Pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas ra, bahwa Rasulullah Saw. bersabda :

“Hari 1 bulan Dzulhijjah adalah hari dimana Allah Swt. mengampuni dosa Nabi Adam as. Barang siapa berpuasa pada hari tersebut, Allah Swt. akan mengampuni segala dosanya.

Hari 2 bulan Dzulhijjah adalah hari dimana Allah Swt. mengabulkan do’a Nabi Yunus dengan mengeluarkannya dari perut ikan. Barang siapa berpuasa pada hari itu seolah-olah telah beribadah selama satu tahun penuh tanpa berbuat maksiat sekejab pun.

Hari 3 bulan Dzulhijjah adalah hari dimana Allah Swt. mengabulkan do’a nabi Zakaria. Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka Allah Swt.akan mengabulkan segala do’anya.

Hari 4 bulan Dzulhijjah adalah hari ketika Nabi Isa as. dilahirkan. Barang siapa berpuasa pada hari itu akan terhindar dari kesengsaraan dan kemiskinan.

Hari 5 bulan Dzulhijjah adalah hari ketika Nabi Musa as. dilahirkan. Barang siapa berpuasa pada hari itu akan bebas dari kemunafikan dan azab kubur.

Hari 6 bulan Dzulhijjah adalah hari ketika Allah Swt. membuka pintu kebajikan untuk Nabi-Nya. Barang siapa berpuasa pada hari itu akan dipandang oleh Allah dengan penuh rahmat dan tidak akan diazab.

Hari 7 adalah hari ditutupnya pintu jahannam dan tidak akan dibuka sebelum hari kesepuluh lewat. Barang siapa berpuasa pada hari itu Allah Swt. akan akan menutup tiga puluh pintu kemelaratan dan kesukaran serta akan membuka tiga puluh pintu kesenangan dan kemudahan.

Hari 8 adalah hari Tarwiyah. Barang siapa berpuasa pada hari itu akan memperoleh pahala yang tidak diketahui besarnya kecuali oleh Allah Swt.

Hari 9 adalah hari Arafah. Barang siapa berpuasa pada hari itu puasanya menjadi tebusan dosanya setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Hari 10 adalah hari raya Idul Adha. Barang siapa menyembelih Qurban, maka pada tetesan pertama darah Qurban diampunkan dosa-dosanya dan dosa anak-anak serta istrinya.”

Selain itu, keistimewaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah karena pada hari tersebut merupakan waktu berkumpulnya ibadah-ibadah utama seperti sholat, puasa, sedekah, dan haji. Tidak ada waktu lain yang seperti itu. wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”


Al-Qudsy, Muhaimin. 2011. Kunci Praktis Doa yang Terkabul. Yogyakarta: Javalitera

Penulis        : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 5, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta