Perbuatan maksiat bisa terjadi pada banyak hal. Salah
satunya maksiat kaki. Langkah kita akan menentukan alur kegiatan selanjutnya.
Ketika kita melangkahkan kaki ke masjid untuk sholat berjama’ah, berarti
langkah kaki kita membawa pada kebaikan. Sebaliknya jika kita berjalan dengan
tujuan untuk mencuri, berarti langkah kita membawa pada keburukan. Dan
seringnya yang dibicarakan adalah kejelekan orang lain.
Sedikitnya ada tiga maksiat kaki yang harus dihindari
oleh kita :
1.Perginya seorang muslim dari rumah untuk mengadu
domba orang lain.
Kebiasaan kita jika keluar rumah dan bertemu teman
adalah ngobrol, berbicara dari yang jelas sampai yang tidak jelas dan tidak ada
habisnya. Disinilah biasanya kita dengan atau tanpa sadar telah membicarakan
orang lain. Bahkan mengadu domba. Padahal membicarakan orang lain, mengadu
domba adalah perbuatan dosa. Ketika kita sudah beraksi, berjalan satu langkah,
dosa kita sudah mengalir, dan dipastikan anggota tubuh yang lainnya juga
melakukan dosa yang sama besar. Kaki, tangan, mulut, telinga kita. Semua akan
terkena dampak dari dosa tersebut.
Jika tidak ada kesibukan, lebih baik tetap dirumah.
Melakukan aktivitas yang lebih baik serta lebih mendekatkan kita kepada Allah
SWT. Misal digunakan untuk mengaji. Daripada keluar rumah untuk melakukan dosa.
2.Perginya seorang istri dari rumah tanpa izin suami.
Ada ulama yang mengatakan, pergi disini adalah pergi
untuk melakukan maksiat. Ketika istri melangkahkan kaki keluar rumah tanpa izin
dari suami dan untuk melakukan maksiat, maka kaki istri telah melakukan
maksiat.
“Kaum laki-laki itu pemimpin bagi kaum wanita,oleh
karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang
lain (wanita), dank arena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari
harta mereka. Sebab itu, wanita ynag saleh ialah yang taat kepada Allah lagi
memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara
(mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz-nya, maka nasehatilah
mereka dan pisahkanlah mereka ditrmpat tidur mereka, dan pukullah mereka.
Kemudian jika mereka menaatimu, janganlah kamu mencari-cari jalan untuk
menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An Nisaa’
: 34-35)
Menurut ayat diatas, jika ada seorang istri yang
melakukan nusyuz, Allah memerintahkan untuk menasehatinya. Jika tidak bisa,
maka dipisahkan tempat tidurnya agar istri sadar bahwa dia disangsikan
suaminya, bahwa perbuatannya salah. Namun, jika tetap tidak sadar, maka memukul
istri (menurut hadist nabi, pukulan yang tidak membahayakan).
3.Berjalan menuju tempat maksiat.
Kadang kita tidak sadar bahwa kita melangkah pada
jalan yang salah. Hal ini karena kita sudah terbiasa melakukan maksiat.
Pada suatu hari, Rasulullah SAW bertanya kepada para
sahabatnya, “ Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut (pailit) itu?” Para
sahabat menjawab, “ orang yang pailit diantara kita adalah orang yang tidak
mempunyai uang dan harta.” Rasulullah SAW bersabda, “ Orang yang pailit dari
umatku adalahh orang yang datang pada hari Kiamat dengan (pahala) shalat,
puasa, dan zakatnya. Namun dia datang dan (dulu di dunianya) dia telah mencela
si fulan, menuduh (berzina) si fulanah, memakan harta si ini, menumpahkan darah
si itu, dan memukul orang lain (dengan tanpa hak). Maka, si fulan diberikan
kepadanya kebaikan orang yang membawa banyak pahala ini, dan si itu diberikan
demikian juga. Apabila kebaikannya sudah habis sebelum dia melunasi segala dosanya
(kepada orang lain), maka kesalahan orang yang didzalimi di dunia itu
dibabankan kepadanya, kemudian dia dilemparkan kea pi neraka.” (HR. Muslim)
Jika kita tidak segera bertaubat dan meminta maaf
kepada orang-orang yang pernah kita dzalimi, kelak kita akan menjadi orang yang
bangkrut di akhirat.
Maka, pandai-pandailah kita membawa langkah tujuan
kaki kita. Hendaknya kita selalu melangkah pada kebaikan, serta kemudahan untuk
menjauhi langkah-langkah menuju kemaksiatan. wallau’alam.
“Senantiasa tersenyum
dan menebarkan kebaikan”
Ra’uf, H. M. Amrin. 2012. Awas Pintu-Pintu Maksiat dalam Dirimu. Yogyakarta :Najah.
Penulis : Ika
Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 4, Teknik Informatika, UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar