Selasa, 19 April 2016

MAKSIAT KAKI



Perbuatan maksiat bisa terjadi pada banyak hal. Salah satunya maksiat kaki. Langkah kita akan menentukan alur kegiatan selanjutnya. Ketika kita melangkahkan kaki ke masjid untuk sholat berjama’ah, berarti langkah kaki kita membawa pada kebaikan. Sebaliknya jika kita berjalan dengan tujuan untuk mencuri, berarti langkah kita membawa pada keburukan. Dan seringnya yang dibicarakan adalah kejelekan orang lain. 
 
Sedikitnya ada tiga maksiat kaki yang harus dihindari oleh kita :

1.Perginya seorang muslim dari rumah untuk mengadu domba orang lain.

Kebiasaan kita jika keluar rumah dan bertemu teman adalah ngobrol, berbicara dari yang jelas sampai yang tidak jelas dan tidak ada habisnya. Disinilah biasanya kita dengan atau tanpa sadar telah membicarakan orang lain. Bahkan mengadu domba. Padahal membicarakan orang lain, mengadu domba adalah perbuatan dosa. Ketika kita sudah beraksi, berjalan satu langkah, dosa kita sudah mengalir, dan dipastikan anggota tubuh yang lainnya juga melakukan dosa yang sama besar. Kaki, tangan, mulut, telinga kita. Semua akan terkena dampak dari dosa tersebut.
Jika tidak ada kesibukan, lebih baik tetap dirumah. Melakukan aktivitas yang lebih baik serta lebih mendekatkan kita kepada Allah SWT. Misal digunakan untuk mengaji. Daripada keluar rumah untuk melakukan dosa.

2.Perginya seorang istri dari rumah tanpa izin suami.

Ada ulama yang mengatakan, pergi disini adalah pergi untuk melakukan maksiat. Ketika istri melangkahkan kaki keluar rumah tanpa izin dari suami dan untuk melakukan maksiat, maka kaki istri telah melakukan maksiat.

“Kaum laki-laki itu pemimpin bagi kaum wanita,oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dank arena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, wanita ynag saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz-nya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka ditrmpat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An Nisaa’ : 34-35)

Menurut ayat diatas, jika ada seorang istri yang melakukan nusyuz, Allah memerintahkan untuk menasehatinya. Jika tidak bisa, maka dipisahkan tempat tidurnya agar istri sadar bahwa dia disangsikan suaminya, bahwa perbuatannya salah. Namun, jika tetap tidak sadar, maka memukul istri (menurut hadist nabi, pukulan yang tidak membahayakan).

3.Berjalan menuju tempat maksiat.

Kadang kita tidak sadar bahwa kita melangkah pada jalan yang salah. Hal ini karena kita sudah terbiasa melakukan maksiat.

Pada suatu hari, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya, “ Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut (pailit) itu?” Para sahabat menjawab, “ orang yang pailit diantara kita adalah orang yang tidak mempunyai uang dan harta.” Rasulullah SAW bersabda, “ Orang yang pailit dari umatku adalahh orang yang datang pada hari Kiamat dengan (pahala) shalat, puasa, dan zakatnya. Namun dia datang dan (dulu di dunianya) dia telah mencela si fulan, menuduh (berzina) si fulanah, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu, dan memukul orang lain (dengan tanpa hak). Maka, si fulan diberikan kepadanya kebaikan orang yang membawa banyak pahala ini, dan si itu diberikan demikian juga. Apabila kebaikannya sudah habis sebelum dia melunasi segala dosanya (kepada orang lain), maka kesalahan orang yang didzalimi di dunia itu dibabankan kepadanya, kemudian dia dilemparkan kea pi neraka.” (HR. Muslim)

Jika kita tidak segera bertaubat dan meminta maaf kepada orang-orang yang pernah kita dzalimi, kelak kita akan menjadi orang yang bangkrut di akhirat.
Maka, pandai-pandailah kita membawa langkah tujuan kaki kita. Hendaknya kita selalu melangkah pada kebaikan, serta kemudahan untuk menjauhi langkah-langkah menuju kemaksiatan. wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”


Ra’uf, H. M. Amrin. 2012. Awas Pintu-Pintu Maksiat dalam Dirimu. Yogyakarta :Najah.

Penulis : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 4, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar