BAHAYA LIDAH
“ Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada
di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaff : 18)
Manusia.. ya manusia kadang
lebih suka untuk banyak berbicara daripada bertindak. Lebih banyak bicara yang tidak
jelas daripada berdzikir. Hal ini yang bisa menyebabkan manusia menjadi
tergelincir, karena berbicara yang tidak terkontrol dan tidak bisa menjaga
lidahnya. Misalnya saja, berbicara yang tidak benar, membicarakan kejelekan
orang lain, adudomba, berbicara yang kotor, menyakiti orang lain, baik secara
langsung maupun tidak, dan hal-hal lainnya.
“ Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu
ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan
dimintai pertanggungjawabannya. “ (QS. Al-Israa’ : 36)
Semua yang ada pada manusia,
di akhirat nanti akan memberi penyaksian dan akan dipertanggungjawabkan. Jika
kita bersedekah, maka tangan akan bersaksi bahwa ketika di dunia digunakan
untuk bersedekah. Sebaliknya jika didunia tangan digunakan untuk meminum khamr,
maka tangan akan memberi kesaksian bahwa ketika didunia digunakan untuk minum
khamr. Begitu juga dengan lidah. Apabila sewaktu hidup, lidah digunakan untuk
berdzikir, membaca Al-Qur’an, berbicara yang baik dan tidak menyakiti orang
lain, berbicara jujur, maka lidahpun akan memberi kesaksian yang baik. Berbeda
jika selama didunia lidah kita digunakan untuk menggunjing, adu domba,
berbicara bohong, dan hal-hal buruk lainnya, maka lidah kita harus
mempertanggungjawabkan hal itu.
Makanya, “Berbicaralah yang
baik, jika tidak bisa, lebih baik diam.” Begitu berbahanya lidah manusia.
Apapun yang sudah keluar dari mulut kita, tidak mungkin bisa diulang apalagi
kembali lagi. Jadi, kita harus pintar-pintar dalam menjaga lidah kita, agar kita
tidak tergelincir ke neraka karena tidak bisa menjaga lidah. Sebelum berbicara,
pikirkan dahulu, apapan perkataan itu benar atau salah, menyakiti orang lain
atau tidak, merugikan atau tidak (baik untuk diri sendiri maupun orang lain).
“Ketahuilah bahwa lidah bahayanya sangat besar,
sedikit orang yang selamat darinya, kecuali dengan banyak diam.” (Al Imam Al
Ghazali)
Diam disini bukan berarti
tidak berbicara apapun. Tetapi berbicara yang baik dan berkualitas, berbicara
yang bernilai ibadah, seperti berdakwah. Selain itu juga dibarengi dengan
akhlak yang baik. Jadi, jika kita mampu mengontrol perkataan, kita juga
sekaligus bisa mengontrol perilaku kita. Hal ini berawal dari pemikiran yang
baik, perkataan yang baik kemudian berperilaku yang baik.
Rasulullah bersabda, “Maukah kalian aku beritahukan
tentang ibadah yang paling mudah dan paling ringan bagi badan? Diam dan akhlak
yang baik.” (HR. Ibnu Abi Dunya)
wallau’alam.
“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”
Buku pegangan wajib peserta PPK (Program Pendamping Keagamaan) 2015
Penulis : Ika
Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 3, Teknik Informatika, UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar