Selasa, 19 April 2016

MEMILIH MENJADI HAMBA DARIPADA RAJA


Nabi Muhammad SAW, Rasulullah, benar-benar merupakan suri tauladan bagi setiap umat.
 
Al Thabrani dan Al Baihaqi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, telah berkata :
Suatu hari Rasulullah SAW dan JIbril sedang duduk diatas sebuah batu karang. Beliau berkata kepada Jibril, “Wahai Jibril, demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, bahwa keluarga Muhammad akan bermalam tanpa tepung dan gandum.”

Maka tidak lama setelah beliau mengatakan hal itu, terdengar guntur menggelegar dari langit hingga beliau terkejut. Beliau berkata, “Apakah Allah SWT telah memerintahkan terjadi Hari Kiamat?”

“Tidak, akan tetapi, Allah SWT memberi perintah kepada Malaikat Israfil untuk turun ketika mendengar perkataanmu tadi,” jawab Jibril.

Padahal Malaikat Israfil tidak pernah turun kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad SAW. Israfil datang dan berkata, “Sesungguhnya Allah SWT mendengar apa yang telah engkau katakan, maka Dia mengutusku dengan membawa kunci harta simpanan bumi dan Dia juga memerintahkanku untuk memperlihatkan kepadamu bahwa zamrud, ya’qut, emas dan perak gunung Mekah dapat berjalan bersamamu. Lalu, apakah engkau ingin menjadi seorang nabi dan raja atau nabi dan hamba?”
Maka Jibril memberi isyarat kepada Rasul agar beliau merendahkan diri. Rasulullah menjawab, “Aku memilih menjadi seorang nabi dan hamba.”

Begitulah Rasulullah, beliau selalu merendahkan diri, lebih memilih menjadi seorang hamba daripada seorang raja. Padahal jika beliau menginginkan, menjadi nabi dan raja, maka gunung-gunung tersebut akan menjadi emas bagi beliau.

Rasulullah yang seorang nabi saja tidak berlebih-lebihan, memilih untuk hidup sederhana. Lalu mengapa kita yang orang biasa sering bersikap berlebihan. Walaupun kita memiliki harta yang berlimpah, bersikaplah tetap sederhana. Lebih baik lagi jika membagi dengan orang yang lebih membutuhkan. wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”

Malik, Miftahul Asror. 2014. 102 Kisah Rasulullah yang Paling Mengharukan Sepanjang Sejarah. Yogyakarta:Semesta Hikmah

Penulis : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 4, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta






Tidak ada komentar:

Posting Komentar