Senin, 19 September 2016

SEORANG MUADZIN



“Apabila diserukan adzan untuk shalat, maka setan pergi berlalu dalam keadaan terkentut-kentut hingga tidak mendengar adzan. Bila muadzin selesai mengumandangkan adzan, ia datang lagi. Ketika diserukan iqamat, ia pun berlalu lagi…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beberapa keutamaan seorang muadzin adalah :
 
     1.    Lehernya paling panjang pada Hari Kiamat.

Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya, muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya di hari kiamat nanti.” (HR. Muslim, Ibnu Majah, Thabrani, Baihaqi, Ahmad, Abu Ya’la, Al-Qudha’i)
Menurut Ibnul Arabi, yang dimaksud “lehernya paling panjang” adalah yang paling banyak amalnya diantara manusia.

     2.    Semua makhluk yang mendengarkan adzan seorang muadzin, akan menjadi saksi di akhirat kelak.

Rasulullah bersabda, “Tidaklah jin dan manusia serta tidak ada sesuatu pun yang mendengar suara lantunan adzan dari seorang muadzin, melainkan akan menjadi saksi kebaikan bagi si muadzin pada hari kiamat.” (HR. Bukhari)

     3.   Akan diampuni dosanya sepanjang suaranya dan semua makhluk yang mendengar akan mendoakan ampun baginya.

Rasulullah bersabda, “Bagi muadzin akan diampuni dosanya sepanjang suaranya dan akan memohonkan ampun baginya semua benda yang basah dan kering. Sedangkan orang yang menghadiri shalat berjamaah akan dicatat baginya 25 kebaikan dan akan dihapus kesalahan diantara keduanya (antara adzan dan shalatnya).” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud)

     4.    Imam shalat dan muadzin akan didoakan oleh Rasullah.

Rasullah bersabda, “Imam adalah penanggung jawab, dan muadzin adalah pembawa amanat. Ya Allah, berikanlah bimbingan kepada para imam dan ampunilah dosa para muadzin.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Abu Daud)

    5.    Jaminan surga baginya.

Rasulullah bersabda, “Barang siapa adzan selama dua belas tahun, maka wajib baginya mendapatkan surga dan dengan adzannya itu dicatat baginya setiap hari enam puluh kebaikan. Setiap iqamah yang ia lakukan, ia mendapatkan tiga puluh kebaikan.” (HR. Ibnu Majah, Al-Bazzar, Baihaqi, Thabrani)

Didalam hadits lain, disebutkan Rasulullah bersabda, “Barang siapa mengumandangkan adzan karena ikhlas selama tujuh tahun, maka Allah akan membebaskan dirinya dari neraka.”(HR. Ibnu Majah). wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”

Sa’du, Abdul Aziz. 2015 . Jangan Remehkan Amalan-Amalan Kecil!. Yogyakarta: Sabil

Penulis        : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 5, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta







GO GREEN



Allah menciptakan semua makhluknya tidak ada yang sia-sia. Sang Maha Pencipta menciptakan berbagai makhluk untuk berkomunikasi, saling mempengaruhi dan bekerjasama, tidak dapat berdiri sendiri-sendiri. Oleh karenanya, tidak hanya manusia saja yang diciptakan oleh Allah, Dia juga menciptakan alam semesta dengan keanekaragaman flora dan faunanya.

Rasulullah bersabda, “Siapa menanam sebuah pohon kemudian dengan tekun memeliharanya dan mengurusnya hingga berbuah, maka sesungguhnya baginya pada tiap-tiap sesuatu yang dimakan dari buahnya merupakan sedekah disisi Allah SWT.” (HR.Ahmad)

Manusia tinggal di atas bumi, di atas tanah. Membutuhkan jaminan untuk kelangsungan hidupnya, antara lain dengan bernafas dan makan. Manusia bernafas membutuhkan oksigen, sedangkan oksigen di hasilkan oleh pepohonan. Dan bisa dikatakan, manusia bergantung pada keberadaan tumbuhan untuk bernafas. Manusia juga membutuhkan makanan. Nasi yang berasal dari biji tumbuh-tumbuhan, sayuran serta daging yang berasal dari daging hewan.

Tumbuhan membutuhkan asupan air dan makanan yang ketersediaannya tergantung pada perilaku manusia pada alam. Hewan memerlukan ketersediaan oksigen dari tumbuh-tumbuhan dan makanan, baik golongan herbivora, karnivora, maupun omnivora. Ini juga tidak terlepas dari peran manusia dalam menjaga kelangsungan hidup tumbuhan dan hewan. Hal ini menjelaskan bahwa tidak terelakkan jika semua makhluk juga bergantung pada makhluk lainnya.


Jika tidak memperhatikan alam sekitar. Kita sibuk dengan pemikiran otak untuk terus mewujudkan nafsu kita. Nafsu untuk menguasai semua, mendapat keuntungan dalam bidang apapun sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan keadaan alam. Mengeksploitasi alam secara berlebihan dan mengalihkan fungsinya. Maka yang terlihat, ketika dulu banyak pepohonan dan berbagai hewan, sekarang yang mudah ditemui adalah gedung-gedung. Ketika tumbuh-tumbuhan membuat udara sejuk dan asupan oksigen terjamin, banyaknya gedung justru meningkatkan udara dibumi.
 
Untuk itu, agar kelangsungan hidup semua makhluk berjalan dengan normal, kita sebagai manusia, makhluk yang berakal, hendaknya menjaga kelestarian, kelangsungan hidup flora dan fauna. Berperilaku seimbang antara ‘menggunakan’ alam dan memelihara alam. Menanam pohon pada lahan gundul, tidak menebang pohon berlebihan, tidak berburu hewan sembarangan dan lainnya. Ketika kita memperlakukan alam secara baik dan bijak, maka alam pun tidak akan pelit memberikan bantuan untuk kelangsungan hidup manusia.

Rasulullah bersabda, “Tak ada seorang muslim yang menanam pohon, kecuali sesuatu yang dimakan dari tanaman itu akan menjadi sedekah baginya, dan yang dicuri akan menjadi sedekah. Apa saja yang dimakan oleh binatang buas darinya, maka sesuatu itu akan menjadi sedekah baginya. Apapun yang dimakan oleh burung darinya, hal itu akan menjadi sedekah baginya. Tak ada seorang pun yang mengurangi, kecuali itu akan menjadi sedekah baginya.” (HR. Muslim). wallau’alam.
   
“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”

Sa’du, Abdul Aziz. 2015 . Jangan Remehkan Amalan-Amalan Kecil!. Yogyakarta: Sabil

Penulis        : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 5, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta




Senin, 22 Agustus 2016

NGERUMPI?


Manusia tidak dapat hidup sendiri, pastilah membutuhkan kehadiran orang lain dalam kehidupannya. Setiap manusia butuh teman dan butuh bersosialisasi. Hal ini bisa dalam bentuk bermusyawarah, pergi bersama atau sekedar berbincang-bincang santai maupun kegiatan-kegiatan lainnya. Bersosialisasi menyebabkan manusia menjadi mengetahui keadaan di lingkungannya, mengenal orang dengan berbagai sifatnya, bergotong-royong, tolong menolong. Namun tidak dapat dipungkiri, bersosialisasi juga dapat menimbulkan pengaruh negatif. Misalnya menyebabkan adu domba, menggunjing maupun dampak buruk lainnya.

Manusia cenderung senang berbicara, ngobrol, bercengkrama, dari topik pembicaraan yang paling penting sampai hal yang kurang penting. Karena tidak mungkin, seseorang bertemu dengan orang lain tanpa ngobrol. Dan justru obrolan yang lebih menyenangkan ialah ketika membicarakan hal yang kurang penting, hanya sekedar berbincang-bincang hal sederhana. Bahkan manusia terkadang lebih menikmati obrolannya jika topiknya membicarakan orang lain
.
Suatu hubungan berawal dan berlangsung karena komunikasi, dan komunikasi tidak terlepas dari percakapan, pembicaraan. Dan tak jarang pula pada suatu percakapan muncul topik untuk membicarakan orang lain. Justru hal inilah yang kadang tidak disadari dan dengan mudahnya diucapkan. Padahal sesungguhnya, membicarakan orang lain (ghibah), umum disebut ngerumpi ini merupakan suatu perbuatan yang diibaratkan dengan perbuatan memakan daging saudara kita yang telah mati, meninggal. Jadi, apakah anda masih akan ngerumpi?

“Janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha penyayang.” (QS Al Hujurat : 12)

Manusia diciptakan oleh Allah dengan segala kelebihan dan kekurangannya, kelemahnya. Kelebihannya dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas iman dan kualitas kehidupannya. Kekurangan dan kelemahan terkadang akan membawa manusia pada perbuatan dosa, maksiat, dan dzalim. Baik dzalim kepada dirinya sendiri, kepada orang lain bahkan kepada Allah.

“Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.” (QS Al Ahzab : 72)

Suatu kelemahan pada manusia adalah menahan lisan. Manusia mudah tergoyah dalam menjaga lisannya. Sedikit terpancing oleh orang lain atau bahkan tanpa ada pancingan, dengan mudahnya manusia membicarakan orang lain. Dan kebanyakan yang dibicarakan adalah keburukan orang lain. Padahal jelaslah, bahwa perbuatan ini merupakan hal yang tidak baik yang dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Dapat menimbulkan fitnah, perpecahbelahan hubungan, adu domba, dan yang jelas dosa merupakan dampak dari ngerumpi.

Faktor pendorong manusia melakukan maksiat dapat berasal dari dirinya maupun pengaruh dari luar. Oleh karenanya, sebagai orang beriman hendaknya kita menjaga lisan kita dengan baik. Tidak perlu membicarakan keburukan orang lain, karena kita sendiri belum tentu lebih baik dari dia yang dibicarakan. Tidak perlu mudah terpengaruh dan tidak perlu menanggapi orang yang membicarakan orang lain. Disinilah, pentingnya peran memilih pergaulan.

Orang yang beriman lebih baik berusaha meningkatkan iman dan taqwa, menggunakan lisan untuk berbicara hal yang baik, membaca Al-Qur’an, dakwah maupun berdzikir. Hal ini justru yang akan membuat lisan kita menjadi terkontrol dan menjaga hubungan lebih dekat dengan Allah.

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim)
wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”


Soebachman, Adiba A dan Fajar Nugroho. 2015. Agar Tidak Bersedih & Berfikir Negatif Baca Buku Ini!. Yogyakarta: Kauna Pustaka


Penulis : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta

Mahasiswa semester 4, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

POSITIVE THINKING

Segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah pasti mengandung maksud. Segala yang terjadi pada manusia dan ciptaan-Nya pasti ada hikmahnya. Semua yang terjadi telah diatur oleh Allah. Allah membuat skenario yang terbaik untuk setiap umat-Nya. Jadi, apapun yang terjadi, kita harus yakin bahwa itulah yang terbaik. Tidak perlu terlalu senang karena dapat menyebabkan lalai. Tidak perlu terlalu terpuruk karena kita harus yakin semua yang terjadi adalah yang terbaik. Semua kebaikan berasal dari Allah, semua keburukan berasal dari manusia itu sendiri.

Semua yang terjadi pada manusia pastilah ada kebaikan dan keburukan. Dari setiap kejadian, kita haruslah berprasangka baik. Berprasangka baik terhadap Allah maupun manusia lain. Berprasangka baik terhadap Allah merupakan akidah, sedangkan berprasangka baik terhadap manusia lain merupakan akhlak yang baik.

“Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan syaitan telah menjadikan kamu memandang bak dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa.” (QS Al Fath : 12)

Manusia pasti mempunyai prasangka. Jika yang terjadi padanya adalah kebaikan, pasti dia akan berprasangka baik, merasa senang, dan bahkan bisa terlena untuk bersyukur serta tetap memohon perlindungan Allah. Jika keburukan atau hal yang tidak menyenangkan yang terjadi, manusia cenderung berprasangka buruk, mengeluh, menggugat dan protes akan semua yang terjadi.

Manusia yang beriman dan bertaqwa pasti selalu berprasangka baik apapun yang terjadi padanya. Dia yakin bahwa semua yang terjadi telah digariskan oleh Allah. Dia akan selalu bersyukur dan menerima setiap kejadian. Ia yakin bahwa Allah menetapkan semuanya sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Segala yang terjadi adalah ketetapan yang terbaik dan dibalik semua yang terjadi pasti ada hikmah yang terkandung didalamnya.

“Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR Bukhari dan Muslim)

Berprasangka baik akan membuat hati manusia menjadi tenang. Manusia menjadi lebih bersukur dan menerima dengan ikhlas atas apa yang terjadi. Hal ini akan berdampak positif bagi manusia, karena justru sifat-sifat kebaikan yang akan muncul padanya. Selain itu, berprasangka baik akan membuat doa-doa dikabulkan oleh Allah. Berbeda halnya jika prasangka buruk yang selalu muncul, hati yang gelisah, lupa bersyukur dan tidak ikhlas yang akan dirasakan.

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al A’raf : 56)
wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”


Soebachman, Adiba A dan Fajar Nugroho. 2015. Agar Tidak Bersedih & Berfikir Negatif Baca Buku Ini!. Yogyakarta: Kauna Pustaka


Penulis : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 4, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Jumat, 29 Juli 2016

MAAF ?


Segala sesuatu yang ada atau yang terjadi pasti ada sebabnya. Begitu juga kata ‘maaf’. Kata ‘maaf’ muncul karena adanya kata ‘salah’. Adanya seseorang meminta maaf maupun memberi maaf karena adanya kesalahan kepada maupun terhadap orang lain. Dan semua orang pasti pernah melakukan kesalahan, kecuali Rasulullah SAW yang ma’shum (senantiasa dalam bimbingan Allah SWT).

Rasulullah SAW bersabda, “Setiap manusia pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baiknya pelaku kesalahan itu adalah orang yang segera bertaubat kepada Allah SWT.”

Manusia yang baik bukanlah manusia yang tidak pernah berbuat salah, melainkan orang yang melakukan kesalahan tapi dia segera bertaubat.

Setelah pembebasan Makkah (Fardhu Makkah), dihadapan orang-orang yang selama ini memusuhinya, Rasulullah SAW berkata, “Wahai orang-orang Quraisy, menurut pendapat kamu sekalian apa kira-kira yang akan aku perbuat terhadapmu sekarang? Jawab mereka, “Yang baik-baik. Saudara kami yang pemurah. Sepupu kami yang pemurah.”
Mendengar jawaban itu, Nabi SAW berkata, “Pergilah kamu semua, sekarang kamu sudah bebas.”

Rasulullah mengetahui mereka yang telah berkomplot untuk membunuhnya, yang telah menganiayanya dan menganiaya pengikutnya, yang melemparinya dengan kotoran, bahkan dengan batu. Namun beliau memaafkan semua kesalahan mereka. Nabi SAW yang ma’shum saja memaafkan kesalahan orang lain, apalagi kita yang manusia biasa, yang pasti pernah melakukan kesalahan, mengapa sulit untuk memaafkan orang lain?

Sebagai makhluk yang tidak lepas dari kesalahan, hendaknya kita mampu memaafkan orang lain. Kata maaf berasal dari Bahasa Al Qur’an yaitu alafwu yang berarti menghapus, karena memaafkan berarti menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Jadi, jika masih tersisa bekas luka didalam hati, masih ada dendam bisa jadi yang dilakukan masih pada tahap ‘masih menahan amarah’.
Islam memberikan derajat yang tinggi bagi orang yang bisa memaafkan kesalahan orang lain. Karena pemaaf merupakan akhlak yang sangat luhur.

Allah SWT berfirman, “…Maka barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah.” (QS. Asy Syura : 40)

Dari Uqbah bin Amir berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “ Wahai Uqbah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah engkau menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mau memberimu dan maafkanlah orang yang telah mendzalimimu.”” (HR. Ahmad, Al Hakim, dan Al Baghawy)
 
Al Qur’an menetapkan bahwa orang yang diperlakukan secara dzalim diizinkan untuk membela diri. Namun bukan membela diri berdasar balas dendam, tetapi dengan menunjukkan perbuatan yang luhur dan memaafkan.

“Dan janganlah bersumpah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bahwa mereka tidak akan memberi kepada kaum kerabat, orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di Jalan Allah. Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin kalau Allah Mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nur : 22)

Seseorang dituntut untuk melapangkan dada agar dapat memaafkan orang lain, menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru. Terkadang karena suatu kesalahan orang, kita menjadi lupa akan kebaikannya, kita harus mempelakukannya secara seimbang.

Ahli hikmah mengatakan : lupakan kebaikanmu kepada orang lain dan lupakan kesalahan orang lain kepadamu. wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”
Soebachman, Adiba A dan Fajar Nugroho. 2015. Agar Tidak Bersedih & Berfikir Negatif Baca Buku Ini!. Yogyakarta: Kauna Pustaka

Penulis : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 4, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

AYO TERSENYUM !



Seorang muslim diperintahkan untuk bersedekah kepada sesama makhluk ciptaan Allah. Biasanya sedekah dikaitkan dengan memberikan harta benda kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Namun, ada sedekah yang murah meriah yaitu senyuman. Senyuman bernilai ibadah dalam Islam. Senyuman juga dapat menyehatkan jiwa dan psikis. Bila kita tersenyum, sama halnya kita olahraga ringan selama 20 menit.

“Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah.” (HR. Tirmizi dan Abu Dzar)

Senyum merupakan ekspresi wajah yang terjadi akibat bergeraknya atau timbul suatu gerakan di bibir atau kedua ujungnya, juga disekitar mata. Pada dunia olah raga, olah raga terbaik dan efektif untuk kesehatan wajah adalah tersenyum. Senyum dapat mengurai lemak pada wajah, membuat wajah lebih kencang dan mencegah munculnya kerutan.

Orang yang tersenyum, wajahnya akan memancarkan aura positif sehingga menimbulkan kenyaman dan ketenangan orang disekitarnya. Hal ini karena penerima senyum akan merasa tersanjung menerima senyuman yang berarti penghormatan dari pemberi senyum. Selain itu, senyum juga bisa mengobati hati ynag terluka atau tersakiti. Senyum membuat kita lebih ikhlas dan memberi kesabaran untuk menguatkan jiwa.

“Tersenyum ketika bertemu saudaramu adalah ibadah.” (HR. Trimidzi, Ibnu Hibban, dan Baihaqi)

Berikut ini adalah manfaat tersenyum :

1. Senyum membuat orang menjadi lebih menarik. Orang yang banyak tersenyum mempunyai daya tarik sendiri dan mempunyai banyak teman, karena orang disekitarnya akan akan merasa senang, nyaman dan tenang.

2. Senyum mengubah perasaan. Senyum akan membuat perasaan menjadi lebih baik.


3. Senyum menular. Ketika kita tersenyum dengan ikhlas kepada orang lain, pasti orang itu akan membalas senyum kita.

4. Senyum menghilangkan stress. Senyum bisa menghilangkan rasa lelah, bosan, sedih, dan membuat pikiran menjadi jernih.
 
5. Senyum meningkatkan imunitas. Fungsi imun tubuh akan bekerja maksimal ketika orang merasa rileks, tersenyum.

6. Senyum menurunkan tekanan darah.

7. Senyum melepas endorphin, pemati rasa ilmiah, dan serotonin. Ketiga hormon ini merupakan hormon yang dapat mengendalikan rasa sakit.

8. Senyum membuat awet muda. Senyum membuat otot wajah terlatih bergerak, sehingga tidak perlu melakukan face lift.

9. Senyum membuat orang terlihat sukses. Orang yang tersenyum terlihat lebih percaya diri, terkenal, dan bisa diandalkan.

10. Senyum membuat orang berfikir positif.

Ketika kita tersenyum, akan menimbulkan banyak manfaat, baik bagi diri sendiri maupun terhadap orang lain. Namun senyum yang dihadirkan haruslah senyum yang ikhlas dan tidak untuk kepentingan tertentu. Karena senyum ikhlas akan menimbulkan munculnya aura positif dari diri kita, kebahagiaan dan ketenangan bagi orang lain. Tetapi jangan senyum-senyum sendiri yaaaa….
Rasulullah bersabda, “Jangan meremehkan sedikitpun dari amal kebaikan, meski hanya sekedar bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” (HR. Muslim) wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”

Soebachman, Adiba A dan Fajar Nugroho. 2015. Agar Tidak Bersedih & Berfikir Negatif Baca Buku Ini!. Yogyakarta: Kauna Pustaka

Penulis : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta

Mahasiswa semester 4, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta