Sabtu, 25 Juni 2016

DIMANA ALLAH ?

Segala sesuatu yang ada, pasti ada yang menciptakan. Begitu juga dengan manusia. Manusia diciptakan oleh Allah SWT. Sebagai manusia, kita harus menjaga hubungan baik dengan manusia lainnya maupun dengan lingkungan. Dengan sesama yang diciptakan saja, diperintahkan untuk menjaga hubungan, silaturahmi, apalagi dengan yang telah menciptakan.

Kita harus menjaga hubungan baik dengan manusia lain, lingkungan dan terutama terhadap Allah SWT. Hubungan terhadap orang lain, misalnya menghormati orang tua, saling mengunjungi saudara maupun tetangga, membantu jika yang lain sedang tertimpa musibah, berbagi dan hal baik lainnya. Hubungan baik dengan lingkungan, misalnya menjaga kebersihan rumah, membuang sampah pada tempatnya, menjaga kelestarian hutan maupun hewan dan lain-lain. Dan hal yang paling utama yaitu menjaga hubungan dengan Allah, yaitu dengan cara selalu mendirikan sholat, puasa, zakat, sedekah, berdzikir dan perintah-perintah Allah lainnya. Dengan melaksanakan perintah-perintah Allah, maka kita akan merasakan adanya Allah, merasakan didalam hati.Menghadirkan Allah dalam segala situasi, selalu mengingat-Nya.

Ada pertanyaan, dimana Allah? Ya..Allah itu dekat dengan kita, seperti urat leher, yang dekat sekali dengan kita.

"Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (QS. Qaff :16)

"Dan Kami lebih dekat kepadanya dari kamu. (QS. Al Waqi'ah : 85)

Jika hati kita hidup, kita akan selalu merasa dekatdengan Allah, sebagaimana dekatnya kita dengan urat leher. Sehingga dengan adanya perasaan itu, kita akan merasa tenang dan akan menjaga diri dari hal-hal yang dapa tmenjauhkannya dari Allah.

Dengan kita merasa dekat dengan Allah, maka kita akan memohon apapun dengan Allah, berusaha melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Hal ini karena hati kita bersih, sehingga tidak mudah terbujuk oleh rayuan syetan.

Berbeda jika hati kita mati, kita tidak akan merasakan kedekatan Allah dengan kita. Hal ini karena hati kita kotor, selalu berbuat maksiat, sehingga kita tidak ingat dengan Allah dan jauh dari-Nya.

Maka, dengan bertaubat kepada Allah, melaksanakan perintah-Nya, meninggalkan perbuatan maksiat, kita akan merasa kehadiran Allah dalan kehidupan dan merasakan kedekatan dengan-Nya, karena memang sebenarnya Allah itu sangat dekat dengan kita, makhluk-Nya.
wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”

Penulis : Ika Trismiati
Anakasuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 4, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta



SIAPA TEMANMU ?

Jadilah orang yang bisa memberi warna indah untuk orang lain, bukan kita yang terbawa arus curam dari orang lain.

Setiap orang tidak bisa hidup sendiri. Pasti membutuhkan keberadaan orang lain. Orang yang bisa diajak ngobrol dan nyambung, jalan-jalan dan kegiatan-kegiatan lainnya. Setiap orang yang masuk kedalam kehidupan orang lain, pasti memiliki porsi sendiri-sendiri yang berbeda. Orang tua tentu yang paling memiliki porsi utama, karena apapun yang terjadi, peristiwa apapun yang ada pasti akan kembali kepada orang tua, keluarga, baik cerita bahagia maupun sedih. Tapi, istilah ‘teman’ juga dibutuhkan dalam kehidupan.

"Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamu bisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium bau wanginya. sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap." (HR. Bukhari dan Muslim)

Kadang waktu kebersamaan dengan teman lebih lama dibanding kebersamaan dengan keluarga. Sehingga tingkat keterpengaruhan kita terhadap temanpun juga besar. Jika seseorang telah memiliki dasar ajaran yang kuat dari keluarga, maka dia tidak mudah terpengaruh teman. Tetapi sebaliknya, jika seseorang tidak mempunyai dasar ajaran yang kuat dari keluarga, dia mudah terpengaruh teman. Dalam hal ini, dasar tersebut bisa berupa tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu, puasa, mengenakan jilbab bagi perempuan. Meskipun sebenarnya itu memang kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap muslim, namun jika keluarga tidak memberikan dan mengajarkan hal itu, ajaran itu tidak akan tertanam pada diri seseorang.

Kita boleh berteman dengan siapa saja, asalkan kita bisa menfilter segala pengaruh dari teman. Pengaruh itu bisa berupa pengaruh yang baik (positif) dan pengaruh buruk (negatif). Jika pengaruh yang diberikan baik, maka ikuti. Bersyukurlah, jika mempunyai teman seperti itu, karena kita bisa terpengaruh baik. Begitu sebaliknya, jika pengaruh buruk, tinggalkan. Bukan meninggalkan orangnya, tapi meninggalkan dan tidak menghiraukan pengaruh yang diberikannya. Karena tidak selamanya teman yang buruk akan menjadikan kita ikut buruk, kadang situasi itu justru scenario yang diberikan oleh Allah sebagai ladang amal kita. Yaitu mencontohkan hal yang lebih positif atau bahkan menyadarkannya.

Sebisa mungkin kita mencontohkan hal yang baik pada teman, dan mencontoh hal baik pula dari teman. Meninggalkan kebiasaan buruk kita dan tidak mudah terpengaruh hal buruk dari teman. Jadi, pertebal dasar keimanan agar tetap di jalan Allah dan tidak mudah terpengaruh hal negatif.
wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”

Penulis : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 4, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta



Rabu, 18 Mei 2016

TOMAT

Dengarlah hai Sobat
saat kau maksiat
dan kau bayangkan ajal mendekat
apa kan kau buat
kau tak kan selamat
pasti dirimu habis dan tamat

Bukan ku sok taat
sebelum terlambat
ayo sama-sama kita taubat
dunia sesaat
awas kau tersesat
ingatlah masih ada akhirat

Astaghfirullahal ‘adzim
ingat mati, ingat sakit
ingatlah saat kau sulit
ingat…ingat hidup cuma satu kali

Berapa dosa kau buat
berapa kali maksiat
ingat…ingat sobat ingatlah akhirat

Cepat ucap astaghfirullahal ‘adzim

Tentunya kita tidak asing dengan syair diatas. Lagu yang dinyanyikan dan dipopulerkan oleh Wali Band. Pada lagu ini terdapat nilai atau pesan diantaranya untuk mengucapkan istighfar dan bertaubat. Bertaubat adalah memohon ampunan kepada Allah, menyesali kesalahannya dengan sungguh-sungguh dan tidak mengulangi perbuatannya.

Namun, terdapat  orang yang sering kal melakukan maksiat dan juga bertaubat. Maksudnya, dia melakukan maksiat, taubat, maksiat lagi, taubat lagi, dan begitu seterusnya. Tapi bagaimana jika saat seseorang sedang bermaksiat kemudian menemui ajalnya sebelum ia sempat bertaubat lagi. Maka dia meninggal dalam keadaan su’ul khatimah.

Kita sebagi makhluk hidup ciptaan Allah SWT, hendaknya selalu ingat akan kematian. Karena dengan mengingat mati, seseorang akan berfikir berulang kali untuk melakuka maksiat, takut jika saat sedang melakukan maksiat, ajalnya akan datang dan matinya dalam keadaan tidak khusnul khatimah.
Allah berfirman :

“Maha Suci Allah yang ditangan-Nya-lah segala kerajaan. Dan, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu. Siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan, Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk [67]:1-2)

Ajal manusia telah ditetapkan oleh Allah SWT. Allah akan menguji manusia untuk mengetahui orang yang mampu melewati ujian dari Allah tetap dalam keadaan baik atau orang yang lalai terhadap ujian-Nya dan terjerumus dalam keburukan.

Allah memberikan petunjuk kepada hamba-Nya yang ingin berbuat kebaikan. Apabila hamba-Nya terjeumus dalam kemaksiatan, maka Dia pula yang memberi cara agar dosa hamba tersebut terampuni, yaitu dengan beristighfar sebaik-baiknya.

“Dan tidak ada sesuatu pun yang menghalangi manusia dari beriman ketika petunjuk telah datang kepada mereka, dan dari memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang telah berlalu pada) umat-umat yang dahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata.” (QS. Al Kahfi [18]: 55)

Tidak ada satu orang pun di dunia yang hidup tanpa dosa, kecuali Rasulullah SAW. Karena beliau telah dijaga oleh Allah dari dosa (ma’shum). Saat kita bersalah, kita dianjurkan untuk beristighfar dengan semurni-murninya.

Ada pepatah mengatakan, “Orang yang bertaqwa bukanlah orang yang selalu benar dalam hidupnya. Tetapi, orang yang bertaqwa adalah ketika berbuat dosa, ia kemudian menyadari dan segera memohon ampunan kepada Allah SWT.” Disebut taqwa jika ketika melakukan kesalahan, ia segera sadar, beristighfar kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh dan tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Bagaimana dengan orang yang beristighfar sambil melakukan maksiat? Masihkah ada ampunan baginya?

Orang yang beristighfar sambil melakukan maksiat adalah orang yang dusta kepada Allah, karena ia terkesan mempermainkan istighfar dan Allah, tentunya. Allah memberikan ampunan kepada mereka yag mengucapkan istighfar dengan dengan sungguh-sungguh, dan tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Untuk pertanyaan kedua, sama seperti kisah penjahat bejat pada zaman Rasulullah yang membunuh 100 orang. Allah masih memberi ampunan kepada hambanya yang bejat sekalipun jika ia bersungguh-sungguh beristighfar, bertaubat dan tidak menulangi perbuatnnya lagi.

Faktor yang menyebabkan orang beristighfar dan melakukan maksiat, salah satunya adalah lingkungan. Sebab lingkungan merupakan tempat tinggal dimana orang bersosialisasi dan membentuk pola pikir serta kepribadiannya. Maka kita harus mempunyai benteng untuk menjaga kita agar tidak terlalu terpengaruh oleh lingkungan. Bahkan jika memang lingkungan tidak mendukung, kita dianjurkan untuk berpindah ketempat yang lebih baik.\

Rasulullah bersabda :
“Seorang itu berada diatas jalan hidup (kebiasaan) temannya. Lantaran itu, hendaknya seseorang diantara kalian memperhatikan orang yang ia temani.” (HR. Abu Dawud)
wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”

Syafi’i, Abdullah. 2012. Kesalahan-Kesalahan Istighfar Buatmu Sulit Menghindari Dosa. Yogyakarta:DIVA Press

Penulis : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 4, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Selasa, 17 Mei 2016

KUNCI SURGA

Setiap orang mempunyai kunci yang berbeda untuk bisa masuk ke surga. Tetapi tetap, yang memberi kunci hanyalah satu, yaitu Allah SWT. Kunci itu dibagikan kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki, karena Dia Maha Kasih Sayang dan Maha Pemurah.

Secara syar’i, yang akan memasuki surga adalah orang-orang yang beriman dan beramal soleh, taat melakukan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Namun, Allah tidak hanya melihat dari perbuatan manusia secara fisik, jasmani saja, melainkan melihat kehati setiap umatnya. Bagaimana niat setiap umat untuk melakukan ibadah. Apakah memang ikhlas karena Allah atau hanya untuk mendapat pujian dari manusia.

Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk meminta surga kepada Allah.

“Janganlah meminta kepada Allah kecuali hanya surga.” (HR. Abu Dawud)
Hanya surgalah yang dijanjikan Allah kepada umatnya yang beriman lagi beramal sholeh. Di surga itulah Dia meletakkan sebagian besar rahmat dan ridho-Nya.

Allah menyebutkan bahwa amalan itu semacam alat bayar untuk membeli surga.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman itu akan diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka… Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah :111)

Tetapi, tidak seluruh amalan bisa menjadi alat bayar. Karena syarat amalan itu adalah amalan yang dilandasi dengan keikhlasan hati untuk mengharap keridhoan Allah.

Rasulullah mengingatkan kepada kita, bahwa surga itu barang dagangan Allah. Jadi, jika kita takut kehabisan barang dagangannya, datanglah lebih pagi, lebih awal.

“Siapa yang bertaqwa, maka hendaklah berangkat pagi-pagi ketika hari masih gelap. Sebab, siapa yang berangkat lebih pagi, maka ia akan lebih cepat sampai ke tujuan. Ingatlah, barang dagangan Allah itu mahal. Ingatlah, barang dagangan Allah itu surga.” (HR. At Tirmidzi)

Nabi SAW memperingatkan kita tentang pentingnya berjuang untuk memperoleh rahmat Allah, yaitu surga. Namun, bukan karena perjuangan yang menyebabkan kita mendapatkan surga, melainkan karena sifat Allah dengan sifat-Nya yang Maha Pengampun lagi Maha Kasih Sayang.

Perjuangan kita yaitu beriman, beramal sholeh, melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Melakukan segala amalan ikhlas karena Allah, semata-mata untuk mengharapakan ridho dari Allah. wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”

Mazayasyah, Ummi Alhan Ramadhan. 2008. SMS DARI SURGA:Kabar Gembira untuk Calon Penghuni Surga. Yogyakarta:Darul Hikmah

Penulis : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 4, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta









Selasa, 19 April 2016

MEMILIH MENJADI HAMBA DARIPADA RAJA


Nabi Muhammad SAW, Rasulullah, benar-benar merupakan suri tauladan bagi setiap umat.
 
Al Thabrani dan Al Baihaqi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, telah berkata :
Suatu hari Rasulullah SAW dan JIbril sedang duduk diatas sebuah batu karang. Beliau berkata kepada Jibril, “Wahai Jibril, demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, bahwa keluarga Muhammad akan bermalam tanpa tepung dan gandum.”

Maka tidak lama setelah beliau mengatakan hal itu, terdengar guntur menggelegar dari langit hingga beliau terkejut. Beliau berkata, “Apakah Allah SWT telah memerintahkan terjadi Hari Kiamat?”

“Tidak, akan tetapi, Allah SWT memberi perintah kepada Malaikat Israfil untuk turun ketika mendengar perkataanmu tadi,” jawab Jibril.

Padahal Malaikat Israfil tidak pernah turun kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad SAW. Israfil datang dan berkata, “Sesungguhnya Allah SWT mendengar apa yang telah engkau katakan, maka Dia mengutusku dengan membawa kunci harta simpanan bumi dan Dia juga memerintahkanku untuk memperlihatkan kepadamu bahwa zamrud, ya’qut, emas dan perak gunung Mekah dapat berjalan bersamamu. Lalu, apakah engkau ingin menjadi seorang nabi dan raja atau nabi dan hamba?”
Maka Jibril memberi isyarat kepada Rasul agar beliau merendahkan diri. Rasulullah menjawab, “Aku memilih menjadi seorang nabi dan hamba.”

Begitulah Rasulullah, beliau selalu merendahkan diri, lebih memilih menjadi seorang hamba daripada seorang raja. Padahal jika beliau menginginkan, menjadi nabi dan raja, maka gunung-gunung tersebut akan menjadi emas bagi beliau.

Rasulullah yang seorang nabi saja tidak berlebih-lebihan, memilih untuk hidup sederhana. Lalu mengapa kita yang orang biasa sering bersikap berlebihan. Walaupun kita memiliki harta yang berlimpah, bersikaplah tetap sederhana. Lebih baik lagi jika membagi dengan orang yang lebih membutuhkan. wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”

Malik, Miftahul Asror. 2014. 102 Kisah Rasulullah yang Paling Mengharukan Sepanjang Sejarah. Yogyakarta:Semesta Hikmah

Penulis : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 4, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta