Jadilah orang yang bisa memberi warna indah
untuk orang lain, bukan kita yang terbawa arus curam dari orang lain.
Setiap orang
tidak bisa hidup sendiri. Pasti membutuhkan keberadaan orang lain. Orang yang
bisa diajak ngobrol dan nyambung, jalan-jalan dan kegiatan-kegiatan lainnya.
Setiap orang yang masuk kedalam kehidupan orang lain, pasti memiliki porsi
sendiri-sendiri yang berbeda. Orang tua tentu yang paling memiliki porsi utama,
karena apapun yang terjadi, peristiwa apapun yang ada pasti akan kembali kepada
orang tua, keluarga, baik cerita bahagia maupun sedih. Tapi, istilah ‘teman’
juga dibutuhkan dalam kehidupan.
"Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamu bisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium bau wanginya. sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kadang waktu
kebersamaan dengan teman lebih lama dibanding kebersamaan dengan keluarga. Sehingga
tingkat keterpengaruhan kita terhadap temanpun juga besar. Jika seseorang telah
memiliki dasar ajaran yang kuat dari keluarga, maka dia tidak mudah terpengaruh
teman. Tetapi sebaliknya, jika seseorang tidak mempunyai dasar ajaran yang kuat
dari keluarga, dia mudah terpengaruh teman. Dalam hal ini, dasar tersebut bisa
berupa tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu, puasa, mengenakan jilbab
bagi perempuan. Meskipun sebenarnya itu memang kewajiban yang harus dilakukan
oleh setiap muslim, namun jika keluarga tidak memberikan dan mengajarkan hal
itu, ajaran itu tidak akan tertanam pada diri seseorang.
Kita boleh berteman
dengan siapa saja, asalkan kita bisa menfilter segala pengaruh dari teman. Pengaruh
itu bisa berupa pengaruh yang baik (positif) dan pengaruh buruk (negatif). Jika
pengaruh yang diberikan baik, maka ikuti. Bersyukurlah, jika mempunyai teman
seperti itu, karena kita bisa terpengaruh baik. Begitu sebaliknya, jika
pengaruh buruk, tinggalkan. Bukan meninggalkan orangnya, tapi meninggalkan dan
tidak menghiraukan pengaruh yang diberikannya. Karena tidak selamanya teman
yang buruk akan menjadikan kita ikut buruk, kadang situasi itu justru scenario
yang diberikan oleh Allah sebagai ladang amal kita. Yaitu mencontohkan hal yang
lebih positif atau bahkan menyadarkannya.
Sebisa
mungkin kita mencontohkan hal yang baik pada teman, dan mencontoh hal baik pula
dari teman. Meninggalkan kebiasaan buruk kita dan tidak mudah terpengaruh hal
buruk dari teman. Jadi, pertebal dasar keimanan agar tetap di jalan Allah dan tidak mudah terpengaruh hal negatif.
wallau’alam.
“Senantiasa
tersenyum dan menebarkan kebaikan”
Penulis : Ika
Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 4, Teknik Informatika, UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar