Manusia tidak dapat hidup sendiri, pastilah
membutuhkan kehadiran orang lain dalam kehidupannya. Setiap manusia butuh teman
dan butuh bersosialisasi. Hal ini bisa dalam bentuk bermusyawarah, pergi
bersama atau sekedar berbincang-bincang santai maupun kegiatan-kegiatan
lainnya. Bersosialisasi menyebabkan manusia menjadi mengetahui keadaan di
lingkungannya, mengenal orang dengan berbagai sifatnya, bergotong-royong,
tolong menolong. Namun tidak dapat dipungkiri, bersosialisasi juga dapat
menimbulkan pengaruh negatif. Misalnya menyebabkan adu domba, menggunjing
maupun dampak buruk lainnya.
Manusia cenderung senang berbicara, ngobrol,
bercengkrama, dari topik pembicaraan yang paling penting sampai hal yang kurang
penting. Karena tidak mungkin, seseorang bertemu dengan orang lain tanpa
ngobrol. Dan justru obrolan yang lebih menyenangkan ialah ketika membicarakan
hal yang kurang penting, hanya sekedar berbincang-bincang hal sederhana. Bahkan
manusia terkadang lebih menikmati obrolannya jika topiknya membicarakan orang
lain
.
Suatu hubungan berawal dan berlangsung karena
komunikasi, dan komunikasi tidak terlepas dari percakapan, pembicaraan. Dan tak
jarang pula pada suatu percakapan muncul topik untuk membicarakan orang lain.
Justru hal inilah yang kadang tidak disadari dan dengan mudahnya diucapkan.
Padahal sesungguhnya, membicarakan orang lain (ghibah), umum disebut ngerumpi
ini merupakan suatu perbuatan yang diibaratkan dengan perbuatan memakan daging
saudara kita yang telah mati, meninggal. Jadi, apakah anda masih akan ngerumpi?
“Janganlah
sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara
kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentulah kalian merasa jijik
kepadanya. Bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat
lagi Maha penyayang.” (QS Al Hujurat : 12)
Manusia diciptakan oleh Allah dengan segala kelebihan
dan kekurangannya, kelemahnya. Kelebihannya dapat digunakan untuk meningkatkan
kualitas iman dan kualitas kehidupannya. Kekurangan dan kelemahan terkadang akan membawa manusia pada perbuatan
dosa, maksiat, dan dzalim. Baik dzalim kepada dirinya sendiri, kepada orang
lain bahkan kepada Allah.
“Sesungguhnya
kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Semuanya
enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya.
Dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan
amat bodoh.” (QS Al Ahzab : 72)
Suatu kelemahan pada manusia adalah menahan lisan.
Manusia mudah tergoyah dalam menjaga lisannya. Sedikit terpancing oleh orang
lain atau bahkan tanpa ada pancingan, dengan mudahnya manusia membicarakan
orang lain. Dan kebanyakan yang dibicarakan adalah keburukan orang lain.
Padahal jelaslah, bahwa perbuatan ini merupakan hal yang tidak baik yang dapat
menimbulkan berbagai dampak negatif. Dapat menimbulkan fitnah, perpecahbelahan
hubungan, adu domba, dan yang jelas dosa merupakan dampak dari ngerumpi.
Faktor pendorong manusia melakukan maksiat dapat
berasal dari dirinya maupun pengaruh dari luar. Oleh karenanya, sebagai orang
beriman hendaknya kita menjaga lisan kita dengan baik. Tidak perlu membicarakan
keburukan orang lain, karena kita sendiri belum tentu lebih baik dari dia yang
dibicarakan. Tidak perlu mudah terpengaruh dan tidak perlu menanggapi orang
yang membicarakan orang lain. Disinilah, pentingnya peran memilih pergaulan.
Orang yang beriman lebih baik berusaha meningkatkan
iman dan taqwa, menggunakan lisan untuk berbicara hal yang baik, membaca
Al-Qur’an, dakwah maupun berdzikir. Hal ini justru yang akan membuat lisan kita
menjadi terkontrol dan menjaga hubungan lebih dekat dengan Allah.
“Barang
siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang
baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim)
wallau’alam.
“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”
Soebachman, Adiba A dan Fajar Nugroho. 2015. Agar
Tidak Bersedih & Berfikir Negatif Baca Buku Ini!. Yogyakarta: Kauna
Pustaka
Penulis
: Ika Trismiati
Anak
asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 4,
Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
