Dengarlah
hai Sobat
saat
kau maksiat
dan
kau bayangkan ajal mendekat
apa
kan kau buat
kau
tak kan selamat
pasti
dirimu habis dan tamat
Bukan
ku sok taat
sebelum
terlambat
ayo
sama-sama kita taubat
dunia
sesaat
awas
kau tersesat
ingatlah
masih ada akhirat
Astaghfirullahal
‘adzim
ingat
mati, ingat sakit
ingatlah
saat kau sulit
ingat…ingat
hidup cuma satu kali
Berapa
dosa kau buat
berapa
kali maksiat
ingat…ingat
sobat ingatlah akhirat
Cepat
ucap astaghfirullahal ‘adzim
Tentunya kita tidak asing dengan syair diatas. Lagu yang
dinyanyikan dan dipopulerkan oleh Wali Band. Pada lagu ini terdapat nilai atau
pesan diantaranya untuk mengucapkan istighfar dan bertaubat. Bertaubat adalah
memohon ampunan kepada Allah, menyesali kesalahannya dengan sungguh-sungguh dan
tidak mengulangi perbuatannya.
Namun, terdapat
orang yang sering kal melakukan maksiat dan juga bertaubat. Maksudnya,
dia melakukan maksiat, taubat, maksiat lagi, taubat lagi, dan begitu
seterusnya. Tapi bagaimana jika saat seseorang sedang bermaksiat kemudian
menemui ajalnya sebelum ia sempat bertaubat lagi. Maka dia meninggal dalam
keadaan su’ul khatimah.
Kita sebagi makhluk hidup ciptaan Allah SWT, hendaknya
selalu ingat akan kematian. Karena dengan mengingat mati, seseorang akan
berfikir berulang kali untuk melakuka maksiat, takut jika saat sedang melakukan
maksiat, ajalnya akan datang dan matinya dalam keadaan tidak khusnul khatimah.
Allah berfirman :
“Maha
Suci Allah yang ditangan-Nya-lah segala kerajaan. Dan, Dia Maha Kuasa atas
segala sesuatu yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu. Siapa
diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan, Dia Maha Perkasa lagi Maha
Pengampun.” (QS. Al Mulk [67]:1-2)
Ajal manusia telah ditetapkan oleh Allah SWT. Allah
akan menguji manusia untuk mengetahui orang yang mampu melewati ujian dari
Allah tetap dalam keadaan baik atau orang yang lalai terhadap ujian-Nya dan
terjerumus dalam keburukan.
Allah memberikan petunjuk kepada hamba-Nya yang ingin
berbuat kebaikan. Apabila hamba-Nya terjeumus dalam kemaksiatan, maka Dia pula
yang memberi cara agar dosa hamba tersebut terampuni, yaitu dengan beristighfar
sebaik-baiknya.
“Dan
tidak ada sesuatu pun yang menghalangi manusia dari beriman ketika petunjuk
telah datang kepada mereka, dan dari memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali
(keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang telah berlalu pada) umat-umat
yang dahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata.” (QS. Al Kahfi [18]:
55)
Tidak ada satu orang pun di dunia yang hidup tanpa
dosa, kecuali Rasulullah SAW. Karena beliau telah dijaga oleh Allah dari dosa (ma’shum). Saat kita bersalah, kita
dianjurkan untuk beristighfar dengan semurni-murninya.
Ada pepatah mengatakan, “Orang yang bertaqwa bukanlah
orang yang selalu benar dalam hidupnya. Tetapi, orang yang bertaqwa adalah
ketika berbuat dosa, ia kemudian menyadari dan segera memohon ampunan kepada
Allah SWT.” Disebut taqwa jika ketika melakukan kesalahan, ia segera sadar,
beristighfar kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh dan tidak mengulangi
perbuatannya lagi.
Bagaimana dengan orang yang beristighfar sambil
melakukan maksiat? Masihkah ada ampunan baginya?
Orang yang beristighfar sambil melakukan maksiat
adalah orang yang dusta kepada Allah, karena ia terkesan mempermainkan
istighfar dan Allah, tentunya. Allah memberikan ampunan kepada mereka yag
mengucapkan istighfar dengan dengan sungguh-sungguh, dan tidak mengulangi
perbuatannya lagi.
Untuk pertanyaan kedua, sama seperti kisah penjahat
bejat pada zaman Rasulullah yang membunuh 100 orang. Allah masih memberi
ampunan kepada hambanya yang bejat sekalipun jika ia bersungguh-sungguh
beristighfar, bertaubat dan tidak menulangi perbuatnnya lagi.
Faktor yang menyebabkan orang beristighfar dan
melakukan maksiat, salah satunya adalah lingkungan. Sebab lingkungan merupakan
tempat tinggal dimana orang bersosialisasi dan membentuk pola pikir serta
kepribadiannya. Maka kita harus mempunyai benteng untuk menjaga kita agar tidak
terlalu terpengaruh oleh lingkungan. Bahkan jika memang lingkungan tidak
mendukung, kita dianjurkan untuk berpindah ketempat yang lebih baik.\
Rasulullah bersabda :
“Seorang itu berada diatas jalan hidup (kebiasaan)
temannya. Lantaran itu, hendaknya seseorang diantara kalian memperhatikan orang
yang ia temani.” (HR. Abu Dawud)
wallau’alam.
“Senantiasa
tersenyum dan menebarkan kebaikan”
Syafi’i, Abdullah. 2012. Kesalahan-Kesalahan Istighfar Buatmu Sulit Menghindari Dosa.
Yogyakarta:DIVA Press
Penulis : Ika
Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 4, Teknik Informatika, UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta



