Rabu, 18 Mei 2016

TOMAT

Dengarlah hai Sobat
saat kau maksiat
dan kau bayangkan ajal mendekat
apa kan kau buat
kau tak kan selamat
pasti dirimu habis dan tamat

Bukan ku sok taat
sebelum terlambat
ayo sama-sama kita taubat
dunia sesaat
awas kau tersesat
ingatlah masih ada akhirat

Astaghfirullahal ‘adzim
ingat mati, ingat sakit
ingatlah saat kau sulit
ingat…ingat hidup cuma satu kali

Berapa dosa kau buat
berapa kali maksiat
ingat…ingat sobat ingatlah akhirat

Cepat ucap astaghfirullahal ‘adzim

Tentunya kita tidak asing dengan syair diatas. Lagu yang dinyanyikan dan dipopulerkan oleh Wali Band. Pada lagu ini terdapat nilai atau pesan diantaranya untuk mengucapkan istighfar dan bertaubat. Bertaubat adalah memohon ampunan kepada Allah, menyesali kesalahannya dengan sungguh-sungguh dan tidak mengulangi perbuatannya.

Namun, terdapat  orang yang sering kal melakukan maksiat dan juga bertaubat. Maksudnya, dia melakukan maksiat, taubat, maksiat lagi, taubat lagi, dan begitu seterusnya. Tapi bagaimana jika saat seseorang sedang bermaksiat kemudian menemui ajalnya sebelum ia sempat bertaubat lagi. Maka dia meninggal dalam keadaan su’ul khatimah.

Kita sebagi makhluk hidup ciptaan Allah SWT, hendaknya selalu ingat akan kematian. Karena dengan mengingat mati, seseorang akan berfikir berulang kali untuk melakuka maksiat, takut jika saat sedang melakukan maksiat, ajalnya akan datang dan matinya dalam keadaan tidak khusnul khatimah.
Allah berfirman :

“Maha Suci Allah yang ditangan-Nya-lah segala kerajaan. Dan, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu. Siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan, Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk [67]:1-2)

Ajal manusia telah ditetapkan oleh Allah SWT. Allah akan menguji manusia untuk mengetahui orang yang mampu melewati ujian dari Allah tetap dalam keadaan baik atau orang yang lalai terhadap ujian-Nya dan terjerumus dalam keburukan.

Allah memberikan petunjuk kepada hamba-Nya yang ingin berbuat kebaikan. Apabila hamba-Nya terjeumus dalam kemaksiatan, maka Dia pula yang memberi cara agar dosa hamba tersebut terampuni, yaitu dengan beristighfar sebaik-baiknya.

“Dan tidak ada sesuatu pun yang menghalangi manusia dari beriman ketika petunjuk telah datang kepada mereka, dan dari memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang telah berlalu pada) umat-umat yang dahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata.” (QS. Al Kahfi [18]: 55)

Tidak ada satu orang pun di dunia yang hidup tanpa dosa, kecuali Rasulullah SAW. Karena beliau telah dijaga oleh Allah dari dosa (ma’shum). Saat kita bersalah, kita dianjurkan untuk beristighfar dengan semurni-murninya.

Ada pepatah mengatakan, “Orang yang bertaqwa bukanlah orang yang selalu benar dalam hidupnya. Tetapi, orang yang bertaqwa adalah ketika berbuat dosa, ia kemudian menyadari dan segera memohon ampunan kepada Allah SWT.” Disebut taqwa jika ketika melakukan kesalahan, ia segera sadar, beristighfar kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh dan tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Bagaimana dengan orang yang beristighfar sambil melakukan maksiat? Masihkah ada ampunan baginya?

Orang yang beristighfar sambil melakukan maksiat adalah orang yang dusta kepada Allah, karena ia terkesan mempermainkan istighfar dan Allah, tentunya. Allah memberikan ampunan kepada mereka yag mengucapkan istighfar dengan dengan sungguh-sungguh, dan tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Untuk pertanyaan kedua, sama seperti kisah penjahat bejat pada zaman Rasulullah yang membunuh 100 orang. Allah masih memberi ampunan kepada hambanya yang bejat sekalipun jika ia bersungguh-sungguh beristighfar, bertaubat dan tidak menulangi perbuatnnya lagi.

Faktor yang menyebabkan orang beristighfar dan melakukan maksiat, salah satunya adalah lingkungan. Sebab lingkungan merupakan tempat tinggal dimana orang bersosialisasi dan membentuk pola pikir serta kepribadiannya. Maka kita harus mempunyai benteng untuk menjaga kita agar tidak terlalu terpengaruh oleh lingkungan. Bahkan jika memang lingkungan tidak mendukung, kita dianjurkan untuk berpindah ketempat yang lebih baik.\

Rasulullah bersabda :
“Seorang itu berada diatas jalan hidup (kebiasaan) temannya. Lantaran itu, hendaknya seseorang diantara kalian memperhatikan orang yang ia temani.” (HR. Abu Dawud)
wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”

Syafi’i, Abdullah. 2012. Kesalahan-Kesalahan Istighfar Buatmu Sulit Menghindari Dosa. Yogyakarta:DIVA Press

Penulis : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 4, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Selasa, 17 Mei 2016

KUNCI SURGA

Setiap orang mempunyai kunci yang berbeda untuk bisa masuk ke surga. Tetapi tetap, yang memberi kunci hanyalah satu, yaitu Allah SWT. Kunci itu dibagikan kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki, karena Dia Maha Kasih Sayang dan Maha Pemurah.

Secara syar’i, yang akan memasuki surga adalah orang-orang yang beriman dan beramal soleh, taat melakukan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Namun, Allah tidak hanya melihat dari perbuatan manusia secara fisik, jasmani saja, melainkan melihat kehati setiap umatnya. Bagaimana niat setiap umat untuk melakukan ibadah. Apakah memang ikhlas karena Allah atau hanya untuk mendapat pujian dari manusia.

Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk meminta surga kepada Allah.

“Janganlah meminta kepada Allah kecuali hanya surga.” (HR. Abu Dawud)
Hanya surgalah yang dijanjikan Allah kepada umatnya yang beriman lagi beramal sholeh. Di surga itulah Dia meletakkan sebagian besar rahmat dan ridho-Nya.

Allah menyebutkan bahwa amalan itu semacam alat bayar untuk membeli surga.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman itu akan diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka… Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah :111)

Tetapi, tidak seluruh amalan bisa menjadi alat bayar. Karena syarat amalan itu adalah amalan yang dilandasi dengan keikhlasan hati untuk mengharap keridhoan Allah.

Rasulullah mengingatkan kepada kita, bahwa surga itu barang dagangan Allah. Jadi, jika kita takut kehabisan barang dagangannya, datanglah lebih pagi, lebih awal.

“Siapa yang bertaqwa, maka hendaklah berangkat pagi-pagi ketika hari masih gelap. Sebab, siapa yang berangkat lebih pagi, maka ia akan lebih cepat sampai ke tujuan. Ingatlah, barang dagangan Allah itu mahal. Ingatlah, barang dagangan Allah itu surga.” (HR. At Tirmidzi)

Nabi SAW memperingatkan kita tentang pentingnya berjuang untuk memperoleh rahmat Allah, yaitu surga. Namun, bukan karena perjuangan yang menyebabkan kita mendapatkan surga, melainkan karena sifat Allah dengan sifat-Nya yang Maha Pengampun lagi Maha Kasih Sayang.

Perjuangan kita yaitu beriman, beramal sholeh, melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Melakukan segala amalan ikhlas karena Allah, semata-mata untuk mengharapakan ridho dari Allah. wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”

Mazayasyah, Ummi Alhan Ramadhan. 2008. SMS DARI SURGA:Kabar Gembira untuk Calon Penghuni Surga. Yogyakarta:Darul Hikmah

Penulis : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 4, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta