Jumat, 29 Januari 2016

MANFAAT SHALAT BERJAMA’AH

Setiap muslim diwajibkan untuk melaksanakan shalat 5 waktu. Lebih baik lagi jika dilaksanakan secara berjama’ah. Menurut Jumhur Ulama’, shalat jama’ah hukumnya sunnah muakkad. Shalat yang dilaksanakan secara berjama’ah akan memberikan beberapa manfaat, apalagi jika shalatnya dilaksanakan dimasjid.

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah.” (At-Taubah : 18)

“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat serta ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (Al-Baqarah:43). 

Beberapa keutamaan dan manfaat ketika melaksanakan shalat berjama’ah antara lain :
 
Pertama, Allah akan melipatgandakan pahala shalat sampai dua puluh tujuh derajat.
Rasulullah bersabda, “Shalat berjama’ah itu melebihi shalat munfarid, dua puluh tujuh derajat.”

Kedua, menjauhkan diri dari sifat munafik. Sifat munafik diantaranya bermalas-malasan untuk shalat.
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah. Dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”

Orang munafik tidak bisa melaksanakan ibadah, termasuk shalat, karena Allah. Mereka melaksanakan ibadah hanya untuk diperlihatkan kepada orang lain, riya’ kepada orang lain, tidak ikhlas dalam beribadah.

Ketiga, diampuni dosanya oleh Allah SWT.
Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang berwudhu untuk shalat dan menyempurnakan wudhunya, lalu berjalan untuk menunaikan shalat, dan ia shalat bersama manusia atau berjama’ah atau didalam masjid, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.”

Keempat, mengembangkan disiplin dan berakhlak mulia.
Shalat berjama’ah akan mengajarkan kita untuk disiplin dan berakhlak mulia, seperti disiplin mengikuti gerakan imam, patuh dan taat terhadap pemimpin, tidak egois. 

Kelima, shalat berjama’ah akan menumbuhkan persaudaraan, kasih sayang, dan persamaan.
Semakin sering seorang muslim shalat jama’ah, maka prosentase bertemunya semakin meningkat. Hal ini akan menimbulkan rasa persaudaraan, rasa kasih sayang dan peduli. Semua muslim adalah sama, melaksanakan shalat untuk beribadah kepada Allah, semua mengikuti gerakan imam, duduk dalam barisan yang sama, baik itu pejabat maupun orang biasa, orang kaya maupun miskin. Hal ini menyebabkan terjadinya persamaan, tidak boleh saling menyombongkan diri.

Allah berfirman, “Sesugguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang dijalan-Nya, dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang sangat kokoh.” wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”

Soebahman, Adiba A . 2015. Keajaiban 7 Shalat dan Shalawat. Yogyakarta : Kauna Pustaka.
Syarief, Nashruddin . 2007. Meraih Fadhilah Ibadah Sunnah Bersama Rasulullah SAW. Jakarta : penerbit Alifbata.

Penulis : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 3, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta



Rabu, 27 Januari 2016

BAHAYA LISAN

BAHAYA LIDAH

“ Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaff : 18)
Manusia.. ya manusia kadang lebih suka untuk banyak berbicara daripada bertindak. Lebih banyak bicara yang tidak jelas daripada berdzikir. Hal ini yang bisa menyebabkan manusia menjadi tergelincir, karena berbicara yang tidak terkontrol dan tidak bisa menjaga lidahnya. Misalnya saja, berbicara yang tidak benar, membicarakan kejelekan orang lain, adudomba, berbicara yang kotor, menyakiti orang lain, baik secara langsung maupun tidak, dan hal-hal lainnya.
“ Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya. “ (QS. Al-Israa’ : 36)
Semua yang ada pada manusia, di akhirat nanti akan memberi penyaksian dan akan dipertanggungjawabkan. Jika kita bersedekah, maka tangan akan bersaksi bahwa ketika di dunia digunakan untuk bersedekah. Sebaliknya jika didunia tangan digunakan untuk meminum khamr, maka tangan akan memberi kesaksian bahwa ketika didunia digunakan untuk minum khamr. Begitu juga dengan lidah. Apabila sewaktu hidup, lidah digunakan untuk berdzikir, membaca Al-Qur’an, berbicara yang baik dan tidak menyakiti orang lain, berbicara jujur, maka lidahpun akan memberi kesaksian yang baik. Berbeda jika selama didunia lidah kita digunakan untuk menggunjing, adu domba, berbicara bohong, dan hal-hal buruk lainnya, maka lidah kita harus mempertanggungjawabkan hal itu.

Makanya, “Berbicaralah yang baik, jika tidak bisa, lebih baik diam.” Begitu berbahanya lidah manusia. Apapun yang sudah keluar dari mulut kita, tidak mungkin bisa diulang apalagi kembali lagi. Jadi, kita harus pintar-pintar dalam menjaga lidah kita, agar kita tidak tergelincir ke neraka karena tidak bisa menjaga lidah. Sebelum berbicara, pikirkan dahulu, apapan perkataan itu benar atau salah, menyakiti orang lain atau tidak, merugikan atau tidak (baik untuk diri sendiri maupun orang lain).
Rasulullah SAWbersabda, “ Barang siapa yang diam, pasti dia selamat.” (HR. At-Tirmidzi)
“Ketahuilah bahwa lidah bahayanya sangat besar, sedikit orang yang selamat darinya, kecuali dengan banyak diam.” (Al Imam Al Ghazali)
Diam disini bukan berarti tidak berbicara apapun. Tetapi berbicara yang baik dan berkualitas, berbicara yang bernilai ibadah, seperti berdakwah. Selain itu juga dibarengi dengan akhlak yang baik. Jadi, jika kita mampu mengontrol perkataan, kita juga sekaligus bisa mengontrol perilaku kita. Hal ini berawal dari pemikiran yang baik, perkataan yang baik kemudian berperilaku yang baik.
Rasulullah bersabda, “Maukah kalian aku beritahukan tentang ibadah yang paling mudah dan paling ringan bagi badan? Diam dan akhlak yang baik.” (HR. Ibnu Abi Dunya)
wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”

Buku pegangan wajib peserta PPK (Program Pendamping Keagamaan) 2015

Penulis : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 3, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta



PAHALA MEMBACA AL-QUR’AN

Kita, sebagai umat Islam wajib untuk bersyukur. Kita memiliki kitab Al-Qur’an yang terjaga kemurniannya dari zaman nabi sampai sekarang. Kitab Al-Qur’an sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya. Melalui Nabi Muhammad SAW, Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai kabar gembira. Al-Qur’an berisi tentang pedoman dan petunjuk hidup manusia. Sebagai pedoman kita dalam berperilaku, petunjuk kita agar selamat di dunia maupun diakhirat. 
 
Apa yang ada di Al-Qur’an adalah benar adanya. Tentang sifat-sifat Allah, tentang perintah-perintah-Nya dan juga larangan-Nya. Hal ini juga diperkuat dengan bukti-bukti secara empiris, misal tentang terbentuknya manusia, secara nyata manusia dapat membuktikannya.
Kita sebagai orang muslim harusnya menjadikan Al-Qur’an sebagai kamus kehidupan. Kamus yang menunjuknya kebenaran, misal tentang ibadah dan melakukan perintah Allah, perilaku kita terhadap sesama maupun kepada lingkungan. Selain itu menunjukkan hal-hal yang harus dijauhi oleh manusia, agar kita tidak tergelincir oleh ajakan setan.
Untuk mengetahui tentang Al-Quran, tentu hal yang pertama harus dilakukan adalah membacanya.
Dalam hal ini Rasulullah berpesan, “Bacalah Al-Qur’an! Karena sesungguhnya Al-Qur’an itu akan datang pada hari qiyamat sebagai pemberi syafa’at bagi pembacanya.” Berdasarkan hal ini berarti kita harus membaca Al’Qur’an agar mendapatkan syafa’at pada hari akhir nanti. Hitungan pahala membaca Al-Qur’an adalah 10 kali lipat dari huruf yang dibaca. Berarti jika kamu membaca 100 huruf, maka pahalamu 1000.
Sabda Rasulullah, “Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (Al-Qur’an) maka akan memperoleh satu kebaikan. Setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan : Alif Laam Mim itu satu huruf, tetapi ‘Alif’ satu huruf, ‘Laam’ satu huruf, dan ‘Mim’ satu huruf.
Jadi belajar membaca Al-Qur’an itu sangat penting. Mulai dari pengucapan hurufnya, panjang pendeknya, tempat waqaf yang benar dan lain-lain. Karena dengan kita belajar, kita semakin cinta kepada kitab Al-Qur’an, juga mengenalnya. Dan pada ujungnya menyebabkan kita cinta kepada Allah, atas semua kekuasaan-Nya.
Jika merasa berat untuk membaca Al-Qur’an, baik karena sulit membaca hurufnya, panjang pendeknya maupun yang lainnya, tidak masalah. Asalkan jika kita terus berusaha belajar dan membacanya, Allah akan menilai usaha yang telah kita lakukan.
“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an maka nanti akan berkumpul bersama malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang kesulitan dan berat ketika membaca Al-Qur’an maka ia akan mendapat dua pahala (dari membaca dan usahanya).” Hal ini menjelaskan bahwa orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan disatukelaskan dengan para malaikat. Sedangkan orang yang belum mahir dan sedang belajar membaca Al-Qur’an dengan benar, akan mendapatkan dua pahala yaitu pahala untuk membaca dan pahala atas usaha membenarkan bacaannya.
Ketika kita sudah belajar membaca, selanjutnya yaitu mengetahui arti dari bacaan. Jika sudah mengetahui artinya, hal yang paling penting adalah mengamalkan isi dari Al-Qur’an. Hal ini yang sering susah dilakukan oleh kita. Kita tahu, tetapi tidak melaksanakannya. Misal tentang perintah sholah, yang memang benar-benar hal yang wajib, hal yang penting. Setiap muslim tahu bahwa di Al-Qur’an, Allah memerintahkan untuk melaksanakan sholat wajib, tapi ada juga muslim yang tidak melaksanakannya.Maka alangkah baiknya, jika kita belajar membaca Al-Qur’an, belajar artinya dan maknanya serta mampu mengamalkannya. wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”

Syarief, Nashruddin. 2007. Meraih Fadhillah Ibadah Sunnah Bersama Rasulullah SAW. Jakarta : penerbit Alifbata

Penulis : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 3, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta




DZIKIR




Dzikir artinya ingat atau menyebut. Secara istilah dzikir berarti kegiatan mengingat Allah karena mencintai-Nya dan takut akan murka-Nya. Dzikir dapat dilakukan secar lisan maupun didalam hati. Dzikir juga bermakna mengingat Allah dalam kondisi apapun, merasa diawasi Allah sehingga tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah. Firman Allah dalam QS.Al-Ahzab ayat 41-42, yang artinya “ hai orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” Pusat pikiran kita saat berdzikir hanya kepada Allah. Ketika berdzikir kepada Allah, lakukan dengan khusuk dan khidmat, tidak tergesa-gesa, memulai dengan tahmid,tasbih, kemudian sholawat, dan seterusnya.

Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu , dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS.Al-Baqarah : 152)
 
Ketentuan dalam berdzikir, antara lain :
  • Hendaknya kita berdzikir dalam kondisi apapun, kapanpun dan dimanapun, kecuali jika kita sedang berada ditempat yang jorok dan menjijikkan. Misal, kita berdzikir dimasjid, diruang kelas maupun ketika dirumah.
  • Hendaknya kita tidak terpengaruh oleh apapun yang ada dialam ini, baik manusianya maupun lingkungannya. Apapun yang ada di alam tidak boleh memalingkan kita dari berdzikir kepada Allah.
  •     Kita harus bersikap merendahkan diri ketika berdzikir. Karena keberadaan kita saat ini tergantung pada kekuasaan Allah. Kita mempunyairasa takut kepada Allah sehingga didalam hati selalu hadir nama Allah. Selain itu, dzikir dilakukan denga kesadaran serta tidak mengeraskan suara.

Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang lalai. (QS.Al-A'raaf : 205)

  •   Kita meyakini akan Allah, merasa mencintai-Nya. Maka dzikir dilakukan dengan khusuk penuh penghayatan dan perenungan yang akan menimbulkan getaran didalam hati.
Berdzikir bukan merupakan hal yang sia-sia tanpa hasil untuk dilakukan, karena terdapat manfaat dan keutamaan dari berdzikir, antara lain :

     1.      Ibadah yang paling baik, suci, dan paling tinggi derajatnya.

     2.      Orang yang berzikir hatinya selalu hidup.
Orang yang berdzikir akan selalu ingat dengan Allah. Dia akan melakukan sesuatu yang sesuai dengan perintah Allah. Dia melakukan sesuatu sesuai dengan kata hatinya, karena hatinya selalu hidup. Jadi, dia berbuat sesuai hati dan dengan hati.

     3.       Berdzikir dapat menenangkan dan menentramkan hati.
Ketika seseorang berdzikir, dirinya akan berpusat kepada Allah. Seseorang mengucapkan lafadz-lafadz untuk memuji dan mengingat Allah, hatinya akan menjadi tenang dan tentram. Karena dia merasa semua yang ada didunia dan semua yang terjadi, itu karena Allah.

     4.      Berdzikir menyebabkan seseorang menjadi beruntung.
Seseorang yang berdzikir akan beruntung, karena berarti dia selalu ingat Allah. Ketika mengingat Allah dia akan selalu bertindak sesuai syari’at-Nya. Sehingga dia beruntungg menjadi tidak mudah tergelincir ke jalan yang salah.

     5.      Akan mendapatkan naungan dan rahmat Allah dan menjadi orang istimewa di sisi-Nya.
Saat berdzikir, seseorang berarti telah berusaha mengingat Allah dan mendekatkan diri kepada Allah. Dia merasa selalu diperhatikan dan diawasi oleh Allah, sehingga dia tidak mudah tergelincir ke jalan yang sesat. Dia akan melakukan tindakan yang akan dirahmati Allah. Dan orang yang menyerahkan segala sesuatu kepada Allah, selalu mengingat Allah, melakukan perintah-Nya, mengistimewakan Allah diatas segalanya, maka Allah juga akan mengistimewakan makhluk-Nya itu.

     6.      Berdzikir akan mendapatkan pahala.
Segala sesuatu yang dilakukan karena Allah dan sesuai dengan perintah-Nya, maka akan mendapatkan pahala.

     7.      Allah akan mengabulkan segala permohonan.
Ketika seseorang selalu mengingat dan menyebut nama Allah, maka secara otomatis dia akan selalu terhubung dengan Allah. Dia dekat dengan Allah. Jadi, jika dia melakukan perintah-perintah Allah, Allah juga akan mengabulkan permohonannya.

     8.      Amalan yang dapat meneguhkan jiwa dan diri serta Allah membanggakan di hadapan para malaikat.

     9.      Allah akan mengingat melebihi dari orang yang mengingat-Nya.

    10.  Orang yang berdzikir kepada Allah akan dibebaskan dari azab.

    11.  Berdzikir kepada Allah dapat menghapuskan dosa.

      Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (QS.Al-Ahzab : 35)

Kita sebagai makhluk Allah, seharusnya tahu diri. Tahu diri disini berarti sadar bahwa kita tanpa kuasa Allah bukanlah apa-apa. Dalam kondisi apapun kita memerlukan perlindungan Allah. Maka bagaimana mungkin kita selalu membutuhkan perlindungan Allah, tapi untuk mengingat-Nya saja tidak mau. Makanya sebagai makhluk ciptaan Allah, hendaknya kita selalu mengingat Allah. Karena dengan mengingat akan adanya Allah yang selalu mengawasi kita, kita akan berfikir dulu sebelum bertindak. Kita bertindak yang dapat memberikan manfaat, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Bertindak sesuai yang disyari’atkan oleh Allah. Kita melakukan perintah-perintah Allah dan berusaha menjauhi segala larangannya. wallau’alam.

“Senantiasa tersenyum dan menebarkan kebaikan”

Sarmadi, Sunedi. 2012. Akhlak dalam Islam. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media
Penulis : Ika Trismiati
Anak asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa semester 3, Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta